Home > berita > Cegah Kelaparan, Amerika Bagi-bagi BLT untuk Warganya

Cegah Kelaparan, Amerika Bagi-bagi BLT untuk Warganya


Antrian penduduk AS untuk mengambil BLT

Resesi ekonomi AS tampaknya belum akan segera pulih. Dampaknya pun terus meluas dan melebar ke berbagai sendi kehidupan masyarakat. Pemerintah federal AS sampai membuat program anti-lapar untuk mencegah terjadinya kelaparan massal di Negeri Paman Sam ini.

Satu dari sembilan warga AS kini menggunakan kupon pangan dari pemerintah federal untuk membantu membeli sembako. Bulan Maret kemarin, jumlah orang yang mendaftar untuk memperoleh santunan kupon meningkat dua persen dari 591,000 orang yg sebelumnya sudah terdaftar. Departemen Pertanian memberi sekitar 113,87 dolar AS tiap orang. Di 20 negara bagian AS, satu dari depalan orang sudah masuk dalam daftar food stamp program (bantuan kupon untuk membeli sembako), menurut Food Research Center. Sejak musim gugur tahun lalu, hampir enam juta orang mendadak menganggur.

Kongres kini telah mengalokasikan sekitar 54 milyar dolar AS untuk santunan makanan pada tahun fiskal ini, naik dari 39 milyar dolar AS tahun lalu. Pada tahun fiskal baru yg dimulai 1 Oktober mendatang, para pengamat memperkirakan kenaikan sampai 60 milyar dolar AS untuk bantuan makanan.

Ironis kalau negara yg sudah mendekati jurang kebangkrutan ini kita harapkan uluran tangannya untuk membantu negara kita yg kaya raya. Apa kata dunia?.[islammuhammadi/mt/musakazhim]


Antrian penduduk AS untuk mengambil BLT

Resesi, Awal Kejatuhan Kapitalisme
Resesi Amerika datang seperti badai dan pergi meninggalkan reruntuhan—bisnis yang bangkrut, angka pengangguran yang tinggi dan kadang kala filosofi yang asal-asalan.

Seperti kita tahu filosofi ekonomi konservatif sudah bertahun-tahun menjadi sistem yang tak tergantikan. Kaum konservatif telah menjadikan pandangan ekonomi tersebut sebagai sistem pereknomian di hampir semua negara. Saat ini, ketika resesi global muncul ke permukaan, para pengamat ekonomi berkeyakinan, inilah kejatuhan kapitalisme yang ditopang oleh kaum neoliberal.

Dalam “The Communist Manifesto” (1848), Karl Marx dan Friedrich Engels mengatakan bahwa kapitalisme mempunyai beberapa kelemahan. Kelemahan-kelemahan ini, menurut Marx akan mengakibatkan resesi ekonomi. Marx menyatakan bahwa kapitalisme hanya akan memakmurkan kaum borjuis (kaya) saja. Saat ini, di AS, semakin besar sebuah perusahaan, maka semakin besar pula kejatuhannya. Faktor utang yang terutama melilit perusahaan tersebut.

Sekarang ini, AS menjadi negara yang paling besar sistem perbankannya. Pada tahun 1980-an, hanya ada sedikit bank di AS. Saat itu para pekerja bank mengetahui baik depositor ataupun para pemimjam. Sekarang, para insan perbankan tidak pernah lagi mengetahui kemana dan siapa yang telah mengalirkan uang di bank mereka. Tetapi kemudian merjer dan akuisisi perusahaan membuat semua sumber daya menjadi sentral. Sejumlah bank bangkrut, namun banyak konglomerat baru lahir dan menciptakan persaingan global yang gelap.

Adam Smith, jauh sebelum Manifesto-Marx lahir, tujuh dedade sebelumnya, telah menulis “The Wealth Nation” yang berisi kapitalisme pada zamannya. Pada waktu itu, kapitalisme sudah berjalan yang terjadi di antara komunitas pedagang daging dan roti yang memang banyak menguasai pasar. Kedua pemain pasar itu hanya membantu di antara mereka saja—di luar komunitasnya, jangan harap.

Marx dan Smith telah melihat kebenaran, dua sisi yang berbeda dari kegagalan kapitalisme. Banyak kaum konservatif tetap kukuh pada pendirian untuk menegakkan hukum dan paham ini karena sudah memberikan kekayaan yang melimpah kepada mereka. Rakya AS sendiri sudah muak dengan sistem kapitalisme ini, dan lambat-laun ataupun dalam waktu yang cepat akan terjadi penolakan yang besar. Karena krisis Amerika tidak juga berakhir. (sa/csm/eramuslim)

Mengapa AS Ambruk Karena Perumahan?
Ada empat hal yang membuat AS babak-belur dalam perkenomiannya sekarang ini hingga berada dalam krisis finansial sangat parah: perbankan, otomotif, kartu kredit, dan perumahan. Khusus yang disebutkan terakhir, dalam waktu tiga tahun belakangan ini, harga rumah-rumah di AS menurun tajam, dan mencapai puncaknya dalam waktu enam bulan terakhir.

Hanya dalam waktu 3 tahun saja, harga perumahan di AS sudah turun mencapai 48%—hampir setengahnya!—dan ini adalah angka terbesar dalam waktu 20 tahun terakhir. Rakyat AS masih banyak yang tak percaya mengapa nilai rumahnya begitu tak berharga dan jika dijual jelas akan merugi?

Sejarah sudah memperlihatkan banyak bukti. Misalnya saja di Jepang. Pada tahun 1991, negeri Matahari Terbit itu mengalami ledakan perumahan di semua kota besarnya, tapi kemudian anjlok 15 tahun berikutnya.

Beberapa faktor menjelaskannya. Yang paling penting adalah penjualan perumahan itu dilakukan oleh orang yang ingin membeli rumah yang lain. Jadi, jika si penjual berpikir harga rumah itu tengah turun, wajar jika ia tak akan buru-buru menjual rumahnya.

Berikutnya, si pemilik rumah tidak mau berspekulasi: orang AS jarang yang mau menyewakan rumahnya. Dan juga yang paling mendasar, orang yang telah mengambil perumahan itu tidak mampu lagi membayar tagihan kredit perumahannya. Semua inilah yang terjadi bersamaan dan menyebabkan bisnis perumahan di AS ambruk.

Bisnis perumahan AS sekarang memasuki tahap ada barang namun tak ada pembeli. Karena hal ini pulalah, tak semua pengamat ekonomi setuju bahwa ambruknya perumahan AS bisa diprediksi. Ray Fair, seorang ahli dari Universtias Yale, mengatakan perumahan AS akan kembali sehat jika terjadi perubahan rejim ekonomi.

Artinya, tidak cukup hanya krisis ekonomi yang berakhir, tapi cara pandang orang AS terhadap kepemilikan rumahnya pun harus berubah. Bahkan jika pun benar resesi segera berakhir dalam waktu dekat ini, perumahan AS akan tetap terus merosot untuk beberapa puluh tahun ke depan.

1 dari 50 Anak di AS Tuna Wisma


AS, Negeri Pengangguran

Hasil penelitian di Amerika Serikat yang dirilis Selasa ini menunjukkan, satu dari 50 anak di AS tidak memiliki tempat tinggal atau tuna wisma. Survei yang dilakukan oleh National Center on Family Homelessness dan dikutip CNN, Selasa (10/3/2009) menganalisa data mulai tahun 2005 hingga 2006. Data menunjukkan sebanyak 1,5 juta anak di AS tinggal tanpa rumah.

“Jumlah ini akan bertambah seiring meningkatnya penyitaan rumah,” kata Ellen Bassuk, Presiden National Center on Family Homelessness dalam pernyataan resminya. Studi juga mengkatagorikan berdasrkan negara bagian di empat area, yaitu luasnya anak-anak tuna wisma, risiko yang ditimbulkan dari tidak memiliki rumah, massa anak-anak mereka, serta kebijakan negara bagian dan perencanaan untuk menaggulanginya.

Berdasarkan studi negara-negara bagian yang poin rendah adalah Texas, Georgia, Arkansas, New Mexico, dan Louisiana. Sebaliknya Connecticut, New Hampshire, Hawaii, Rhode Island, dan North Dakota mendapat nilai terbaik.

Hasil studi juga menunjukkan keterkaitan tuna wisma dengan masalah kesehatan, emosional, dan rendahnya kualitas pendidikan.

“Konsekwensinya akan bisa dirasakan dalam beberapa dekade ke depan,” kata Bassuk.

Laporan studi bertajuk “America’s Youngest Outcasts: State Report Card on Child Homelessness” itu juga menyebutkan, sebanyak 42 persen anak-anak tuna wisma berusia di bawah 6 tahun. Selain itu sekira satu dari tujuh anak tuna wisma memiliki masalah dengan kesehatan, terutama asma.

Data juga mengungkap 1,16 juta anak tuna wisma di AS terancam tidak lulus sekolah menengah. (Okz)

AS, Negeri Pengangguran
Negara AS akan menjadi negara pengangguran. Survei yang dilakukan Bloomberg News menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di AS untuk tahun ini mencapai 9,4 persen dan dipekirakan masih akan tetap tinggi sampai tahun 2011.

Angka pengangguran itu melebihi perkiraan sebelumnya yang hanya memperhitungkan bahwa tingkat pengangguran tahun ini hanya 8,8 persen. Angka pengangguran, menurut survei Bloomberg yang dilakukan pada tanggal 2-9 Maret kemarin, akan berada di atas 8 persen selama dua tahun kedepan. Sementara Gedung Putih memproyeksikan angka pengagguran di AS akan menurun menjadi 7,9 persen tahuan depan.

Dengan tingkat pengangguran yang tinggi, para analis mengatakan bahwa program stimulus ekonomi sebesar 787 milyar dollar yang diluncurkan pemerintahan Barack Obama terbukti tidak efektif untuk mengurangi jumlah pengangguran di Negeri Paman Sam itu.

Sejak dilanda krisis ekonomi, AS menghadapi persoalan baru berupa angka pengangguran yang terus melonjak. Sejak bulan Desember, jumlah pengangguran di AS mencapai 4,4 juta orang. Bulan Februari, pemutusan hubungan kerja di AS mencapai angka tertinggi sejak tahun 1983, yaitu sekitar 651.000 orang yang kehilangan pekerjaannya.

Ekonom dan pimpinan di Amerika Securities-Merril Lynch di New York, David Rosenberg bahkan memperkirakan angka pengangguran sampai akhir tahun 2009 bisa mencapai 10 persen. Dengan bertambahnya jumlah pengangguran itu artinya makin banyak warga AS yang tidak mampu untuk melakukan pembayaran cicilan dan hipotiknya yang akan berdampak pada lesunya perekonomian AS.

Survei Bloomberg juga menyebutkan bahwa perekomonian akan menurun sebesar 2,5 persen tahun ini dan hanya akan menggeliat sebesar 1,8 persen tahun depan. Angka itu lebih rendah dari estimasi yang dilakukan bulan Februari kemarin. (ln/prtv/eramuslim)

Amerika Menuju Drop-Out Nation
Apa yang salah dengan AS? Menyusul resesi ekonomi global yang menghantam negara Paman Sam itu, berturut-turut AS didera krisis yang terjadi saling menyusul antara bidang satu dengan bidang lainnya. Kali ini, dari pendidikan AS. Sejak dua tahun belakangan ini, semakin banyak saja anak-anak muda AS yang tak mau bersekolah. Umumnya, mereka sengaja putus sekolah pada usia sekolah menengah atas (SMA).

Sekarang, di AS lumrah pemandangan anak-anak remaja AS menyerbu berbagai tempat keramaian, seperti mall atau kafe. Mereka menghabiskan waktu di sana dengan berbagai aktvitas; bersenda gurau, mendengarkan musik, ataupun bermain video game. Yang mereka perbincangkan pun hanya seputra hal-hal yang tak begitu penting. Sejak dua tahun lalu, Majalah Time, AS terus intens mengadakan penelitian pada anak-anak SMA di AS.

Setiap tahunnya, sekitar 100 orang dari satu angkatan di satu SMA mengalami putus sekolah. Angka ini terus menanjak setiap tahunnya. Dan jumlah 100 orang ini berguguran dengan berbagai sebab, terjerat narkoba, tidak percaya lagi kepada instusi pendidikan, namun lebih dari separuhnya karena sudah mempunyai bayi. Menurut penelitian sejumlah ahli pendidikan di AS, jika dikalkulasikan 1 dari 3 sekolah di AS tidak mempunyai lulusan setiap tahunnya..

Banyak hal yang menyebabkan ini terjadi. Selain resesi yang makin menghebat, perhatian pemerintah AS terhadap pendidikan pun masih dianggap kurang. Bahkan angka anak putus sekolah ini saja tidak mendapat tanggapan serius dalam stimulus yang dicanangkan oleh Barack Obama. Para peneliti dan ahli pendidikan AS khawatir bahwa AS tengah terjun bebas menuju sebuah drop-out nation yang paling besar di seluruh dunia. (sa/tm/eramuslim)


THE TRUTH ABOUT AMERIKA
sumber www.swaramuslim.net
Categories: berita Tags: , , ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

KIRIM KOMENTAR

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 235 other followers