Rajut Persaudaraan, Raih Kemenangan
Dua laki-laki itu baru saja dipersaudarakan. Sebelumnya, mereka tidak pernah kenal satu sama lain. Anehnya, sekalipun demikian, rasa cinta, persaudaraan yang mereka miliki, bak cinta sepasang kekasih yang telah lama tak bersua.
Demi kebahagiaan si-sahabat, salah satu dari mereka yang memang tergolong kolomerat, menawarkan separuh hartanya untuk diambil secara cuma-cuma. Tidak hanya itu, yang cukup mencengangkan, dia juga siap ’menghadiahkan’ salah satu istrinya untuk dijadikan pasangan hidup, sekiranya si-sahabat menghendaki. Bertepatan dia memang memiliki dua istri.
Dia berujar, ”Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan Anshor. Ambillah separoh hartaku itu menjadi dua. Aku juga mempunyai dua istri. Maka lihatlah mana yang engkau pilih, agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya sudah habis, maka nikahilah ia.”
Pernyataan yang sangat luar biasa, yang tidak mungkin terucap, kecuali dari orang yang memiliki kecintaan tinggi terhadap sahabatnya. Lalu, siapakah gerangan dua sahabat yang saling mencintai satu sama lain itu?
Tidak lain mereka adalah Sa’ad bin Arabi’ (dari Anshor) dan Abdurrahman bin ‘Auf (dari Muhajirun), yang baru saja dipersaudarakan oleh Rosulullah Sholallahu ’Alaihi Wasallama (SAW), tidak lama setelah kaum muslimin Mekkah, menapakkan kaki di Madinah.
Memang, setibanya di kota yang awalnya bernama Yatsrib tersebut, ada dua hal yang sangat menumenal yang langsung dilakukan oleh Rosulullah. Yaitu; membangun masjid (Nabawi), dan mempersaudarakan antara kaum muslimin, dari kalangan Muhajirun (Mereka yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah), dengan golongan Anshor (Kaum muslimin yang berdomisili di Madinah). Tujuannya, agar kaum muslimin saling membantu antara satu sama lain. Dan supaya kaum muslimin menyingkirkan belenggu jahiliyah dan fanatisme kekabilahan, yang notabene lebih memilih mementingkan kepentingan pribadi/kelompok, dari pada kemaslahatan ummat pada umumnya.
Hasilnya, potret persaudaraan yang dijalin oleh Sa’ad bin Arabi’ dan Abdurrahman bin ’Auf ini, adalah cerminan dari persaudaraan kaum Muslimin saat itu, yang berjumlah ± sembilan puluh orang. Di kemudian hari, jalinan persaudaraan yang kuat menghujam di sanubari ini pula lah, yang menjadi cikal-bakal bangkitnya kaum muslimin hingga menguasai Jazirah Arab dan sekitarnya.
Islam dan Persaudaraan
Dalam satu riwayat, Rosulullah pernah meanalogikan kaum Muslim dengan kaum Muslimin lainnya, bagai sebuah bangunan, yang mana antara satu komponen dengan komponen yang lain saling menguatkan.
Sabda beliau, ”Al-Mukminu lilmukminin kalbunyaan yasyuddu ba’duhum ba’dhan.” (Mukmin yang satu dengan mukmin yang lainnya bagai satu bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya).
Layaknya satu bangunan, tidak akan pernah sempurna, bila saja antara material yang ada; batu, bata, pasir, daun pintu, jendela, genteng, dll, ’berjalan’ sendiri-sendiri, dan tidak pernah ’ridho’ untuk menyatukan diri, menempati posisinya masing-masing, guna menjadi sebuah bangunan yang kuat, kokoh, elok, lagi memberikan kenyamanan bagi setiap orang yang berteduh di dalamnya.
Beliau juga mengibaratkan kaum muslimin dengan kaum muslimin lainnya bagai satu badan. Tatkala ada salah satu unsur badan tersebut merasakan ketidaknyamanan –misal- sakit perut, maka seluruh anggota tubuh, akan ikut terkena getahnya. Demikianlah sejatinya, gambaran persaudaraan antar kaum Muslimin.
Dalam kontek membangun peradaban Islam, persaudaraan menempati posisi yang sangat sentral dalam menyukseskan misi tersebut. Sepanjang sejarah, telah terbentang catatan, betapa persaudaraan yang kokoh antara kaum muslimin, telah menghasilkan kemenangan-kemenangan gemilang dalam pertempuran. Begitu pula sebaliknya, kekalahan demi kekalahan acap kali hinggap di pihak kaum muslimin, manakala tali persaudaraan antar mereka mengalami ’kelonggaran’. Dampaknya, mereka mudah dicerai-beraikan, diadudomba, dan kemudian dihancurkan oleh musuh-musuh Islam.
Kekalahan kaum muslimin pra kepemimpinan Sholahuddin Al-Ayyubi, dan kemenangan ketika kepemimpimnan berada di pundaknya, dalam perang Salib, adalah satu bukti betapa persaudaraan dan perceraiberaian umat ini, telah menjadi ’urat nadi’, yang menentukan kemenangan atau kekalahan kaum muslimin dalam menghadapi bangsa-bangsa lain.
Bukan Nasab atau Materi
Yang perlu dicamkan, bahwa pondasi yang mendasari persaudaraan kaum Muslimin, yang mampu melahirkan energi yang maha dahsyat, yang menjadi penompang tegaknya peradaban Islam, itu bukanlah nasab, harta, atau kekuasaan.
Persaudaraan yang bahan ’material’ pondasinya terdiri dari tiga unsur ini, merupakan pondasi yang sangat rapuh. Tidak usah jauh-jauh mengambil contoh akan hal itu. Saat ini, betapa sering kita dapatkan berita dari media massa, karena harta, seorang anak tega menuntut orang tuanya di pengadilan. Bahkan, kalau perlu menghabisi nyawa salah satu dari mereka, atau keduanya sekaligus.
Karena kepentingan kekuasaan, para politikus saling menjatuhkan. Padahal, sebelumnya, mereka sangat akrab. Ini sebuah fakta yang tak terbantahkan, betapa nasab, harta, dan kekuasaan bukanlah pondasi yang tepat dalam membingkai persaudaraan hakiki itu. Kalau demikian, lalu apa?
Iman lah jawabannya. Ketika iman benar-benar menjadi unsur penyatu, maka, tidak ada satu pun yang mampu merobohkannya. Kenapa kaum Anshor, salah satunya Sa’ad bin ’Arabi dengan sukarela menawari kaum muhajirin bantuan yang begitu spektakuler, padahal mereka baru saja dipertemukan antar satu sama lain? Kekuatan apakah yang mampu menggerakkan hati mereka untuk melakukan demikian? Adakah unsur lain, selain iman?
Tentu tidak ada. Iman lah yang telah memotivasi kaum muslimin untuk berani berkorban dengan harta, bahkan jiwa mereka sendiri, demi kemuliaan saudaranya. Dan sejatinya, pondasi macam inilah yang ditawarkan Allah bagi kaum muslimin dalam membangun persaudaraan satu sama lain.
Allah berfirman dalam al-Quran: “Dan Berpeganglah kamu semua kepada tali (Agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara……” (Al-Imron: 103)
Membinasakan Persaudaraan
Untuk menjaga tali persaudaraan, yang juga patut kita waspadai adalah penyakit yang bisa merapuhkan tali persaudaraan kaum Muslimin itu sendiri.
Saban hari, Rosulullah pernah menerangkan ke pada para sahabat, bahwa akan tiba suatu masa, di mana keadaan kaum Muslimin bak buih di lautan. Mereka mayoritas, tapi tidak memiliki otoritas. Jumlah mereka melimpah-ruah, tapi tidak memiliki wibawah. Penyebabnya, karena kebanyakan dari mereka, telah terjakit penyakit ’wahn’.
Ketika para sahabat meminta penjelasan prihal penyakit tersebut, beliaupun menjawab,”Hubbud Dunyaa Wa Karihatul Mauti.” (cinta dunia dan takut akan mati).
Tatkala kaum Muslimin, telah terjakit ’virus’ ini, maka yang timbul adalah karakter individualis mereka. Tidak ada lagi yang namanya persaudaraan yang murni. Semua syarat kepentingan, keuntungan diri sendiri, keluarga, atau kelompok masing-masing.
Sebab itu, jangan pernah alpa untuk senantiasa bermunajat kepada-Nya, agar kita terhindar dari penyakit yang akan membinasakan keeksistensian kaum muslimin ini. Dan berharap, semoga tali persaudaraan kaum muslimin –yang saat ini bisa dikatakan cukup renggang- kembali erat lagi, diikat dengan hablullah’ (tali –agama- Allah), bukan hablun yang lainnya, sehingga kejayaan Islam, kembali bisa direngguh, sebagaimana dahulu kala. Amin-amin, yaa rabbal ’aalamin. * Robinsah
sumber :Hidayatullah
Saban hari, Rosulullah pernah menerangkan ke pada para sahabat, bahwa akan tiba suatu masa, di mana keadaan kaum Muslimin bak buih di lautan. Mereka mayoritas, tapi tidak memiliki otoritas. Jumlah mereka melimpah-ruah, tapi tidak memiliki wibawah. Penyebabnya, karena kebanyakan dari mereka, telah terjakit penyakit ’wahn’.
Kutipan diatas sudah jelas terjadi/dialami oleh sebagian saudara2 kita .
dear saudara2 seiman ku,
keimanan adalah harga mati untuk pemersatu kita dan mepererat tali silaturrahmi kita.
Kuat nya bangsa2 Islam di ukur dari ketebalan keimanan nya.
Semoga Blog ini selalu menjadi pemersatu kita.
mari….
setuju!!! lewat blog ini jadikan pencerahan dan tambah wawasan, buat yang sirik bin dengki dengan umat islam, percuma kalian caci maki Muhammad & Islam, Kenyataannya makin dicaci Islam makin menunjukkan kebenarannya. I Don’t Care with Your Faith, My Faith is for My Faith…ISLAM
si mbah berkata
Februari 26, 2011 pada 8:04 am
setuju!!! lewat blog ini jadikan pencerahan dan tambah wawasan, buat yang sirik bin dengki dengan umat islam, percuma kalian caci maki Muhammad & Islam, Kenyataannya makin dicaci Islam makin menunjukkan kebenarannya. I Don’t Care with Your Faith, My Faith is for My Faith…ISLAM
ya… tapi your stupid faith is the enemy of Densus 88.BRAVO …..DENSUS 88 !!
heheheheheh…. si ONTA MAEN SETUJU AJA GAK PUNYA PRINSIP!!!
DENSUS = ADENYA YESUS…. KEKEKEKEKEKEKEK…
Hehehe…
tinggal nunggu siapa lagi yg akan menyusul…amrozy…imam samudera….dkk.
Hajar Den…musuh dalam selimut…modal celana konprang, jidat item.. mudah jadi sasaran tembak!!
SUBHANALLAH..
blog yang sangat bermanfaat..
salam kenal..
@onta
weleh2 kumpulan pelawak lo banggain, lihat berita di TV nggak waktu nangkap orang yang katanye nurdin m top? udah capek seharian eeeh tau2 yang ditangkep bukan nurdin parahnya lagi udah manggil2 media massa lagi
Hendaknya yang berdebat menggunakan kata-kata yang baik, tidak emosi, tidak saling membalas dengan kata-kata kotor. Ajaran Islam yang suci kalau disampaikan dengan kata-kata kotor, apa jadinya? Demikian pendapat saya untuk saudara-saudara sesama muslim.
Densus : Adennya Yesus.
HAM telah dilanggar oleh Adennya Yesus karena yang jadi korban adalah muslim maka nggak ada nama HAM.
HAM milik antek Yahudi sopirnya kristen.
Tahukan kalian bahwa penangkapan terhadap seseorang memiliki cara yang berlaku dalam hukum : pertama sopan kedua bertanya apakah ini benar rumah fulan? bisa ketemu dengan fulan? kedua menunjukkan surat penangkapan dll.
Lha Densus? datang dobrak pukul bawa trus? mati.
@annatary
bukan dobrak pukul tapi dobrak tembak
@jack
yo`i
yah,status muslim saat ini PERSIS seperti jaman akhir usman ibn affan mpe ali ibn abu thalib
TERPECAH..
Ada syiah,jumhur muslim,sahabat2 nabi yg GOLPUT..dan….
KHAWARIJ,golongan islam yg MEMISAHKAN DIRI n BERSIKAP AGRESIF thd ORANG2 SELAIN GOLONGANNYA
memilih KEKERASAN,tapi scra SEMBUNYI2(ingat PERISTIWA PEMBUNUHAN ali r.a oleh ibn muljam s khawarij??)
melihat CARA2 yg dgunakan amrozi,imam samudra,nurdin cs,,,,
MUNGKINKAH MEREKA KHAWARIJ JAMAN MODERN????
@ochan
yah asal yang dibunuh para koruptor sih saya malah bersyukur
@jack
proses pembunuhan terhadap seorang muslim tentu melalui jalur syar’i, bila pembunuhan dilakukan bukan oleh yang berhak maka tidak syar’i tentu sesatu yang tidak syar’i adalah pelanggaran sehingga tentunya tidak ada rasa syukur.
maaf ye kalo ade kate2 yang kagak enak di ati gitu.
@fulan
tapi apa hukuman bagi para pencuri uang rakyat?
apa hukuman bagi para pembunuh?
bukankah koruptor itu juga membunuh rakyat secara pelan2?
maaf, saya menganggap sampah seorang muslim yang tega mencuri harta muslim lainnya
ane setuju banget @jack kalo mereka adalah sampah masyarakat, tidak adil dan diakhirat akan menjadi orang yang paling rugi, tapi @jack, kita tau dalam Islam smua diatur, dalam hal ini juga tentu diatur, bila sembarang orang boleh melakukan pembunuhan tentu akan terjadi kekacauan.
kalo tiap orang diberi ijin, lalu setiap otak tentu beda isi, nah yang satu ketika ngeliat seseorang yang “menurutnya” pantas dibunuh tentu langsung di embat abizzzz, tapi ternyata ada alasan2 lain yang tentunya perlu untuk sangat dituntaskan terlebih dahulu, kita tau bahwa mereka pun merupakan mafia yang terselubung dalam pemerintahan, perlu diutus tuntas, bila si fulan yang terbunuh ternyata merupakan saksi, lalu dari mana kita bisa mengusut tuntas?
btw, kekacauan akan terjadi, dan ane tentu nggak rela lah terhadap para koruptor.
@fulan
anda memang benar, tapi bukankah itu akan memberika efek jera bagi para pelaku seperti di china