Beranda > Kajian Islam > Pemimpin Ideal

Pemimpin Ideal


Oleh Ustadz Abu Ihsan al-Atsari

Al-Mawardi rahimahullah dalam kitab al-Ahkâm ash-Shulthaniyah menyebutkan syarat-syarat seorang pemimpin, di antaranya:

  1. Adil dengan ketentuan-ketentuannya.
  2. Ilmu yang bisa mengantar kepada ijtihad dalam menetapkan permasalahan kontemporer dan hukum-hukum.
  3. Sehat jasmani, berupa pendengaran, penglihatan dan lisan, agar ia dapat langsung menangani tugas kepemimpinan.
  4. Normal (tidak cacat), yang tidak menghalanginya untuk bergerak dan bereaksi.
  5. Bijak, yang bisa digunakan untuk mengurus rakyat dan mengatur kepentingan negara.
  6. Keberanian, yang bisa digunakan untuk melindungi wilayah dan memerangi musuh.

Nilai lebih dalam hal kebijakan, kesabaran, keberanian, sehat jasmani dan rohani serta kecerdikan merupakan kriteria yang mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Tanpa memiliki kriteria itu, seorang pemimpin akan kesulitan dalam mengatur dan mengurus negara dan rakyatnya.

Muhammad al-Amin asy-Syinqithi menjelaskan, “Pemimpin haruslah seseorang yang mampu menjadi Qadhi (hakim) bagi rakyatnya (kaum muslimin). Haruslah seorang alim mujtahid yang tidak perlu lagi meminta fatwa kepada orang lain dalam memecahkan kasus-kasus yang berkembang di tengah masyarakatnya!” (Adhwâ’ul-Bayân, I/67)

Ibnul-Muqaffa’ dalam kitab al-Adabul-Kabir wa Adabush-Shaghir menyebutkan pilar-pilar penting yang harus diketahui seorang pemimpin: “Tanggung jawab kepemimpinan merupakan sebuah bala` yang besar. Seorang pemimpin harus memiliki empat kriteria yang merupakan pilar dan rukun kepemimpinan. Di atas keempat kriteria inilah sebuah kepemimpinan akan tegak, (yaitu): tepat dalam memilih, keberanian dalam bertindak, pengawasan yang ketat, dan keberanian dalam menjalankan hukum”.

Lebih lanjut ia mengatakan: “Pemimpin tidak akan bisa berjalan tanpa menteri dan para pembantu. Dan para menteri tidak akan bermanfaat tanpa kasih sayang dan nasihat. Dan tidak ada kasih sayang tanpa akal yang bijaksana dan kehormatan diri”.

Dia menambahkan: “Para pemimipin hendaklah selalu mengawasi para bawahannya dan menanyakan keadaan mereka. Sehingga keadaan bawahan tidak ada yang tersamar baginya, yang baik maupun yang buruk. Setelah itu, janganlah ia membiarkan pegawai yang baik tanpa memberikan balasan, dan janganlah membiarkan pegawai yang nakal dan yang lemah tanpa memberikan hukuman ataupun tindakan atas kenakalan dan kelemahannya itu. Jika dibiarkan, maka pegawai yang baik akan bermalas-malasan dan pegawai yang nakal akan semakin berani. Jika demikian, kacaulah urusan dan rusaklah pekerjaan”.

Ath-Thurthusyi dalam Sirâjul-Mulûk mengatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ…

…Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Qs Al-Bakharah [2:251]

Yakni, seandainya Allah tidak menegakkan pemimpin di muka bumi untuk menolak kesemena-menaan yang kuat terhadap yang lemah dan membela orang yang dizhalimi atas yang menzhalimi, niscaya hancurlah orang-orang yang lemah. Manusia akan saling memangsa. Segala urusan menjadi tidak akan teratur, dan hiduppun tidak akan tenang. Rusaklah kehidupan di atas muka bumi. Kemudian Allah menurunkan karunia kepada umat manusia dengan menegakkan kepemimpinan. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. -Qs. al-Baqarah/2 ayat 251- yaitu dengan mengadakan pemerintahan di muka bumi, sehingga kehidupan manusia menjadi aman.

 Karunia Allah Azza wa Jalla atas orang yang zhalim, ialah dengan menahan tangannya dari perbuatan zhaliman. Sedangkan karunia-Nya atas orang yang dizhalimi, ialah dengan memberikan keamanan dan tertahannya tangan orang yang zhalim terhadapnya.

 Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الإِمَامُ العَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يَفْطُرَ وَدَعْوَةُ المَظْلُوْمِ.
“Tiga doa yang tidak tertolak: Doa pemimpin yang adil, orang yang puasa hingga berbuka, dan doa orang yang dizhalimi” HR. at Tirmidzi dan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 1432

Diriwayatkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ حُسْنٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Tujuh orang yang akan dinaungi Allah pada hari yang tiada naungan selain naungan-Nya:

  1. Seorang imam yang adil
  2. Seorang pemuda yang menghabiskan masa mudanya dengan beribadah kepada Allah.
  3. Seorang yang hatinya selalu terkait dengan masjid.
  4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah.
  5. Lelaki yang diajak seorang wanita yang cantik dan terpandang untuk berzina lantas ia berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”.
  6. Seorang yang menyembunyikan sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.
  7. Seorang yang berdzikir kepada Allah seorang diri hingga menetes air matanya.”

HR. Bukhari dan Muslim

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Amal seorang imam yang adil terhadap rakyatnya sehari, lebih utama daripada ibadah seorang ahli ibadah di tengah keluarganya selama seratus atau lima puluh tahun.”

Qeis bin Sa’ad berkata, “Sehari bagi imam yang adil, lebih baik daripada ibadah seseorang di rumahnya selama enam puluh tahun.”

Masruq berkata, “Andaikata aku memutuskan hukum dengan hak sehari. maka itu lebih aku sukai daripada aku berperang setahun fi sabilillah.”

Diriwayatkan bahwa Sa’ad bin Ibrâhîm, Abu Salamah bin Abdurrahmân, Muhammad bin Mush’ab bin Syurahabil dan Muhammad bin Shafwan berkata kepada Sa’id bin Sulaiman bin Zaid bin Tsabit: “Menetapkan hukum secara hak satu hari, lebih utama di sisi Allah, daripada shalatmu sepanjang umur”.

Kebenaran perkataan ini akan nampak jelas, jika melihat kebaikan yang didapatkan rakyat karena kebaikan pemimpinnya.

Wahab bin Munabbih rahimahullah berkata, “Apabila seorang pemimpin berkeinginan melakukan kecurangan atau telah melakukannya, maka Allah akan menimpakan kekurangan pada rakyatnya di pasar, di sawah, pada hewan ternak dan pada segala sesuatu. Dan apabila seorang pemimpin berkeinginan melakukan kebaikan dan keadilan atau telah melakukannya niscaya Allah akan menurunkan berkah pada penduduknya.”

 Umar bin ‘Abdul-Aziz rahimahullah berkata, “Masyarakat umum bisa binasa karena ulah orang-orang (kalangan) khusus (para pemimpin). Sementara kalangan khusus tidaklah binasa karena ulah masyarakat. Kalangan khusus itu adalah para pemimpin.”

 Berkaitan dengan makna inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَّا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ٨:٢٥
Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. Qs Al-Anfaal [8:25]

Al-Walid bin Hisyam berkata,“Sesungguhnya rakyat akan rusak karena rusaknya pemimpin, dan akan menjadi baik karena baiknya pemimpin.”

Sufyan ats-Tsauri berkata kepada Abu Ja’far al-Manshur: “Aku tahu, ada seorang lelaki yang bila ia baik, maka umat akan baik; dan jika ia rusak, maka rusaklah umat.” Abu Ja’far al-Manshur (ia adalah pemimpin) bertanya: “Siapa dia?” Sufyan menjawab: “Engkau!”

Pemimpin yang paling baik ialah pemimpin yang ikut berbagi bersama rakyatnya. Rakyat mendapat bagian keadilan yang sama, tidak ada yang diistimewakan. Sehingga pihak yang merasa kuat tidak memiliki keinginan melakukan kezhalimannya. Adapun pihak yang lemah tidak merasa putus asa mendapatkan keadilan. Dalam sebuah kata-kata hikmah disebutkan: Pemimpin yang baik, ialah pemimpin yang orang-orang tak bersalah merasa aman dan orang-orang yang bersalah merasa takut. Pemimpin yang buruk, ialah pemimpin yang orang-orang tak bersalah merasa takut dan orang-orang yang bersalah merasa aman.”

Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada al-Mughirah ketika mengangkatnya menjadi gubernur Kufah: “Hai Mughirah, hendaklah orang-orang baik merasa aman denganmu dan orang-orang jahat merasa takut terhadapmu”.

Dalam sebuah kata-kata hikmah disebutkan: Seburuk-buruk harta, ialah yang tidak diinfakkan. Seburuk-buruk teman, ialah yang lari ketika dibutuhkan. Seburuk-buruk pemimpin, ialah pemimpin yang membuat orang-orang baik takut. Seburuk-buruk negeri, ialah negeri yang tidak ada kemakmuran dan keamanan. Sebaik-baik pemimpin, ialah pemimpin yang seperti burung elang yang dikelilingi bangkai, bukan pemimpin yang seperti bangkai yang dikelilingi oleh burung elang.

Oleh karena itu dikatakan, pemimpin yang ditakuti oleh rakyat lebih baik daripada pemimpin yang takut kepada rakyat.

Seorang pemimpin, hendaklah juga memiliki sifat pemaaf. Maaf dari orang yang kuat adalah fadhilah. Sifat pemaaf yang dimiliki pemimpin, ibarat mahkota bagi seorang raja. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengatakan:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ٧:١٩٩
Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Qs Al-A’raaf [7:199]

Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menganjurkan memberi maaf:

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ٣:١٣٤
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Qs Ali-Imraan [3:134]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ ٤٢:٣٧
Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. Qs Ash-Syura [42:37]

Kecuali bila yang dilanggar itu adalah hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala.

‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas dendam terhadap kezhaliman yang dilakukan terhadap beliau. Hanya saja, bila sesuatu dari hukum Allah dilanggar, maka tidak ada satupun yang dapat menghadang kemarahan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Ketika Uyainah bin Hishn masuk menemui Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Hai Ibnul-Khaththab, demi Allah, engkau tidak memberi kami secara cukup dan engkau tidak menghukum di antara kami secara adil!” Marahlah Umar dan beliau ingin memukulnya. Salah seorang saudaranya berkata: “Hai Amirul- Mukminin, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman, (yang artinya): Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. -al-A’râf/7 ayat 199 dan sesungguhnya dia ini termasuk orang bodoh”.

Demi Allah, ketika ia mendengar ayat itu dibacakan, Umar tidak jadi memukulnya. Karena Umar seorang yang sangat komitmen mengikuti Kitabullah.

Seorang pemimpin hendaklah memiliki sifat kasih sayang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Sayangilah orang-orang di bumi, niscaya Allah yang ada di langit akan menyayangimu”. [HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani t dalam Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 1924]

Orang yang paling berhak menjadi pemimpin ialah yang paling kasih lagi paling penyayang. Sebaik-baik pemimpin ialah yang bisa menjadi teladan dan pemberi hidayah bagi rakyatnya, dan seburuk-buruk pemimpin ialah pemimpin yang menyesatkan. Dahulu dikatakan, bahwa rakyat berada di bawah agama pemimpinnya. Jika bagus agama pemimpinnya, maka bagus pulalah agama rakyatnya. Jika kacau agama pemimpinnya, maka kacau pulalah agama rakyatnya.

Dalam hadits Tsauban Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ عَلَى أُمَّتِي أَئِمَّةً مُضِلِّينَ
“Sesungguhnya, yang paling aku khawatirkan atas dirimu ialah imam-imam yang menyesatkan”. [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, ia berkata: Hadits ini hasan shahîh]

Di dalam kitab ash-Shahîh disebutkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya, Allah tidak mengangkat ilmu sekaligus dari umat manusia, namun Allah mengangkatnya dengan mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak lagi tersisa seorang pun ulama, manusia mengangkat orang-orang jahil sebagai pemimpin. Ketika ditanya, mereka mengeluarkan fatwa tanpa dasar ilmu. Akhirnya mereka sesat lagi menyesatkan”. HR. Bukhari

Imam ath-Thurthûsyi rahimahullah berkata, “Resapilah hadits ini baik-baik. Sesungguhnya, musibah menimpa manusia bukan karena ulama, bila para ulama telah wafat lalu orang-orang jahil mengeluarkan fatwa atas dasar kejahilannya, saat itulah musibah menimpa manusia.

Ia melanjutkan perkataannya: Umar Ibnul-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu telah menerangkan maksud tersebut. Dia berkata,’Seorang yang amanat tidak akan berkhianat. Hanya saja pengkhianat diberi amanat, lantas wajar saja kalau ia berkhianat’.”

Wallahu a’lam bish-Shawab.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo-Puwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183, Telp. 0271-761016]

Categories: Kajian Islam Tag:, ,
  1. Mei 11, 2011 pada 12:10 pm | #1

    Ralat: :D
    3 Pi R = 2P + 2L

    Seharusnyah:
    2 Pi R (K. Lingkaran) “=Setara=” 2P + 2L (K. Kotak)

    Note:
    A Gamma (Kristen) => BUMI CEPER jadi bisa disimpulken bahwa rumus empiris BOLA tidak bisa dijangkau oleh ilmuwan ahlul sempoa Al KRISTIANI.

  2. 1500
    Mei 11, 2011 pada 9:00 pm | #2

    setelah aku pikir2, ada yang curang, jack bisa kirim sebuah link, dan begitu juga dengan semua orang, nah aku baru 1 kali kirim link, tp langsung dimoderasi, payah ini answering,

  3. If@
    Mei 11, 2011 pada 11:00 pm | #3

    @ Hanifa,

    Pinjem ilmu itung-itungannya yah :

    0/0 ≠ 3……(1)
    (domba x 0)=0……(2)
    (kambing x 0)=0………(3)
    Ganti pembilang dan penyebut, substitusi persamaan (2) dan (3) ke pers. (1) diperoleh persamaan (4) :

    0/0 = (domba x 0)/(kambing x 0)
    = (domba/kambing) x (0/0) ……… (4)

    Masukken pers (4) ke persamaan (1), diperoleh persamaan ke (5) :
    (domba/kambing) x (0/0) ≠ 3 ……………………(5)

    Karena menurut Om Hanifa 0/0 = 1, maka persamaan (5) menjadi :
    (domba/kambing) x 1 ≠ 3
    (domba/kambing) ≠ 3

    Pindah ruas, menjadi :
    (domba/kambing) x kambing ≠ 3 x kambing

    Domba ≠ 3 x kambing ,… atau :
    Domba ≠ 3-kalinya Kambing

    Ternyata,
    Ruas sebelah kanan (domba ) tidak sama dengan triple ruas sebelah kiri (kambing) .. ??? :)

    Jika variabel domba = 144.000, variabel kambing = 2.000.000.000, disimpulkan :
    144.000 ≠ 3 x 2.000.000.000

  4. miguel servetus
    Mei 11, 2011 pada 11:09 pm | #4

    @1500

    Baru denger aku? Ayatnya dunk di alkitab, jangan di alquran, alquran itu ayat palsu, pengubahannya hampir 100% oleh Muhammad bin sampah, bin bangkai yang membusuk dlm tanah, yang jika dihina para pemuja muhammad siap mati, hahaha otak dungu, muhammad kan nabi palsu,

    ludahin muka muhammad ah, jwuh…, :D

    JAWAB:

    aduh,rupanya ini yg di ajarkan yesus ya????kata2 kotor???

    nah,kau bilang alquran palsu……sekarang 1500,ku tantang kamu untuk membuktikan,alkitab bebas 100% dari ayat2 palsu…ku tunggu….

  5. Mei 12, 2011 pada 7:18 am | #5

    @Budak If@
    Ruas sebelah kanan (domba ) tidak sama dengan triple ruas sebelah kiri (kambing) .. ???
    _________________
    Hua.ha.ha… sampean memang belum “lurus tanduknyah” … :D

    Kambing = satu classs dengan domba, kambing itu bertanduk dan berbulu lurus,… dagingnyah agak bau, dan bisa juga sebagai hewan hemaprodite artinya bunting tanpa pejantan.

    Domba = satu class dengan kambing, domba itu bertanduk semi melingkar dan berbulu tebal …. bulunyah digunaken sebagai bahan dasar kain we o el.

    bus on the way…

    144.000 (Domba-domba Yesus) ≠ 3 x 2.000.000.000 (Kambing Kacang Sufi’ah bin Syi’ah) … hehehe…

    Ps.
    Jadi kapan sampean mau ngirim Ceweq ABG islam “katepe” ?!

  6. jack
    Mei 12, 2011 pada 8:33 am | #6

    @1500

    ah gue juga pernah nyampe 2 hari ngirim link masih nunggu moderasi juga, mungkin link yang lu kasih itu berisi pilem2 parno kali

  7. Mei 12, 2011 pada 9:21 am | #7

    @Hai para Ahlul kitab !!
    Bijimana, nehh… masih mau mencoba plagiat ilmu Al Qur’an ?!
    Silahken sampean perhatiken dengan selama-lamanyah… hehehe…

    Eagle said
    May 10, 2011 at 3:53 am e

    @Saudarai Look Ahead
    Memang lucu juga … hehehe
    Seperti silogisme @Saudarai Anak Teka yang merengek-rengek penjelasan 0/0=1 dengan perumpamaan buah jeruk dan anak… demikian pula para pengikutnya @Saudarai Jelasnggak dan @Saudarai Herwit “1 apel / 1 anak = 1″.

    Mungkin @Pak Guru saudarai harus usul ke BSI (British Standard Institute) sebab : 1 Inc/1 cm = 1 oleh karena itu yang “benar” adalah ( 1 Kilograms / 1 Pounds ) = 1 K/P … hehehe….

    Sumbernya dari @Oom Eagle, … klik ajah sendiri..

    Bus on the way…

    (domba/kambing) = (1 Inches / 1 cm) => (1) Satu Ilmu Kacangan dari master Syi’ah… hehehe…

    Note:
    1 inc = 2.54 cm

  8. Mei 13, 2011 pada 8:10 am | #8

    Bijimana, nehhh…. kok jadi sapi yah ?!
    bus on the way…
    Prosesi Ibadah Haji 7x keliling Kab’ah kalau dilihat dari @mbah Gugel (tampak atas) maka:

    gera-an 1/7 tawaf = 1 kali keliling
    pohto ka’bah = 1 kotak

    Abraka dabra := 2 Pi R (K. Lingkaran) “=Setara=” 2P + 2L (K. Kotak)… lha ini kan satuan panjang.

    Note:
    A Gamma (Kristen) => BUMI CEPER jadi bisa disimpulken bahwa rumus empiris BOLA tidak bisa dijangkau oleh ilmuwan ahlul sempoa Al KRISTIANI.
    ____________________
    Lha untuk menghitung BUMI CEPER (luas lingkaran), sayah saranken kalian buka buku play grupnyah.

    haniifa berkata
    Februari 13, 2009 pada 2:28 pm

    lho oret-oretanku kok… nggak ada yach ?!

    Rasanya dibuku ini tadi…

    ADVANCED CALCULUS

    by

    WILPRED KAPLAN
    (Departement of Mathematics University of Michigan)

    Apa ketinggalan di warung gituh ?!

    Lha tadi nulisnya dimana yach… kok iso lali..
    Dueh jangan-jangan bloon oret-oretan… :D

    @
    Wuaha…ha… Advanced Calculus… duh judul yang benar-benar mengerikan. Pasti isinya lebih mengerikan… Bener-bener serem deh… :D

    Sumber komeng:
    http://agorsiloku.wordpress.com/lembar-tamu/#comment-23087

    Bijimana, ada yang masih penasaran !!!

Comment pages
1 7 8 9 5256
  1. Belum ada trackback.

BOLEH KOMENTAR DENGAN TIDAK MELANGGAR PERATURAN DISKUSI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 283 pengikut lainnya.