Home > Muhammad saw > Hidup Bertetangga Ala Rasulullah

Hidup Bertetangga Ala Rasulullah

Tetangga adalah sosok yang akrab dalam kehidupan kita sehari-hari. Tak jarang, tetangga kita lebih tahu keadaan kita ketimbang kerabat kita yang tinggal berjauhan. Saat kita sakit dan ditimpa musibah, tetanggalah yang pertama membantu kita. Tak heran, jika Islam begitu menekankan kepada kita untuk berbuat baik kepada terangga, karena dampak hubungan yang harmonis antar tetangga mendatangkan maslahat yang begitu besar.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbuat baik kepada terangganya.” (HR Bukhari-Muslim).

“Dan berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi seorang Muslim.” (HR Ibnu Majah).

Semakin tinggi keimanan seseorang, maka semakin mulia pula akhlaknya kepada siapa pun, termasuk kepada para tetangganya. Keluhuran akhlak seseorang bukti kesempurnaan imannya.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah menggambarkan arti pentingnya kedudukan tetangga dengan berpesan. “Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku (untuk berbuat baik) terhadap tentangga, hingga aku yakin ia (seorang tetangga) akan mewariskan harta kepadanya (tetangganya).” (HR Bukhari-Muslim).

Adab Bertetangga yang Sehat

Menurut Syekh Muhammad bin Jamil, ada beberapa etika dan adab pergaulan dengan tetangga yang selayaknya kita perhatikan diantaranya; mencintai kebaikan untuk tetangga kita sebagaimana kita menyukai kebaikan itu untuk diri sendiri. Bergembira jika tetangga kita mendapat kebaikan dan kebahagiaan, serta menjauhi sikap dengki.

Rasulullah SAW mengajarkan dalam haditsnya, “Dan demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah seseorang beriman hingga ia mencintai untuk tetangganya, atau beliau berkata, untuk sudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR Muslim).

Saat musibah melanda tetangga sebisa mungkin kita membantunya, baik bantuan materi ataupun dukungan moril. Menghibur dan meringankan beban penderitaannya dengan nasihat, tidak menampakan wajah gembira tatkala dia dirundung duka. Menjenguknya ketika sakit dan mendoakan kesembuhan untuknya serta membantu pengobatannya bila memang dia membutuhkannya.

Rasulullah SAW bersabda, “Bukanlah seorang Mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya.” (HR Bukhari).

Menghindari sikap yang dapat menyebabkan tetangga kita merasa tersakiti, baik berupa perbuatan ataupun perkataan. Contohnya, mencela, membeberkan aibnya di muka umum, memusuhinya, atau melemparkan sampah di muka rumahnya sehingga menyebabkan ia terpeleset ketika melewatinya, dan jenis gangguan lainnya.

Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya.” (HR Bukhari).

Kunjungilah tetangga pada hari raya dan sambutlah undangannya jika dia mengundang kita. Pesan Rasulullah, “Hak Muslim atas Muslim yang lain ada lima; menjawab ucapan salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan dan mendoakan orang yang bersin.” (HR Bukhari).

Bersikap toleran kepada tetangga selama bukan dalam perkara maksiat. Mendidik keluarga kita untuk tidak berkata-kata keras atau berteriak-teriak sehingga mengganggu tetangga. Tidak mengeraskan suara radio atau televisi hingga mengusik ketentraman tetangga, terutama pada malam hari. Sebab, mungkin diantara mereka ada yang sedang sakit, lelah, tidur atau mungkin ada anak sekolah yang sedang belajar.

Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik sahabat adalah yang paling baik terhadap sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik terhadap tetangganya.” (HR Tirmidzi).

Dan hendaklah kita tidak bersikap kikir terhadap tetangga yang membutuhkan bantuan, selama kita bisa membantunya. Rasulullah berpesan, “Janganlah seorang diantara kalian melarang tetangganya untuk meletakkan kayu di tembok rumahnya.” (HR Bukhari).

Memberikan hadiah kepada tetangga, walau dengan sesuatu yang mungkin kita anggap remeh. Karena saling memberi hadiah akan menumbuhkan rasa cinta dan ukhuwah yang lebih dalam. Dengarlah nasihat Rasulullah, “Jika suatu kali engkau memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya, kemudian perhatikanlah tetanggamu, dan berikanlah mereka sebagiannya dengan cara yang pantas.” (HR Muslim).

Menundukkan pandangan terhadap aurat tetangga, dan tidak pula menguping pembicaraan mereka. Apalagi sampai mengintip ke dalam rumahnya tanpa seizinnya untuk mengetahui aib mereka. Allah SWT berfirman: “Dan katakanlah

kepada laki-laki beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka.” (QS An-Nur: 30).

Bersabar dalam menghadapi gangguan tetangga, atau memilih pindah rumah jika memang hal itu memungkinkan. Allah berfirman: “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS Fushshilat: 34).

Membalas kejahatan tetangga dengan perbuatan baik merupakan salah satu etika bertetangga yang diajarkan Islam. Nabi SAW bersabda, “Tiga golongan yang dicintai Allah… dan laki-laki yang memiliki tetangga yang menyakitinya, kemudian ia bersabar menghadapi gangguannya hingga ajal memisahkan mereka.” (HR Imam Ahmad).

Jika tidak mampu bersabar menghadapi gangguan tetangga, sementara kita tidak mungkin pindah rumah, maka coba kita terapkan nasihat Rasulullah berikut ini: “Seorang laki-laki pernah datang kepada Nabi mengeluhkan tetangganya. Maka Rasulullah menasehatinya,”Pulanglah dan bersabarlah!” Lelaki itu kemudian mendatangi Nabi lagi sampai dua atau tiga kali, maka Beliau bersabda padanya,”Pulanglah dan lemparkanlah barang-barangmu ke jalan!” Maka lelaki itu pun melemparkan barang-barangnya ke jalan, sehingga orang-orang bertanya kepadanya, ia pun menceritakan keadaannya kepada mereka. Maka orang-orang pun melaknat tetangganya itu. Hingga tetangganya itu mendatanginya dan berkata,”Kembalikanlah barang-barangmu, engkau tidak akan melihat lagi sesuatu yang tidak engkau sukai dariku.” (HR Bukhari)

Memang tiada gading yang tak retak. Tidak ada manusia yang sempurna. Ada saja kekurangan yang melekat pada setiap diri kita. Latar belakang yang berbeda menciptakan pribadi yang berbeda.

Wacana yang perlu kita kembangkan adalah bagaimana kita dapat meredam perbedaan yang ada, selama tidak melanggar rambu syariat. Menjalin komunikasi positif dengan menjunjung tinggi akhlak pergaulan. Selamat menuai pahala dari tetangga Anda.[Republika]

Sumber: Disarikan dari Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VIII.

  1. faham
    May 28, 2011 at 10:44 am | #1

    walau bagaimanapun kalau ada “kejadian” di rumah kita, maka tetanggalah yang biasanya yang pertama kali membantu…. memang kadang2 ada gesekan antar tetangga dan Rasulullah telah memberikan panduan untuk kita bagaimana hidup dengan tetangga….. subhanallah

  2. ahzay
    May 31, 2011 at 3:52 pm | #2

    Ane juga alhamdulillah selalu berbagi dengan tetangga walaupun cuma hal yang kecil dan sepele, tapi itu insya Allah bisa semakin mempererat ukhuwah…Jadi berbagi itu tidak salahnya, karena terkadang bagi kita hal sepele ternyata lebih bermanfaat bagi orang lain terutama tetangga…

  3. May 31, 2011 at 9:17 pm | #3

    iya, alhamudlillah saya selalu berbaik2 dengan tetangga :)

  4. berakhlaq
    June 7, 2011 at 3:17 pm | #4

    AIR ZAN ZAM MENGANDUNG ARSENIK

    ========================================

    Arsenic and Zamzam
    In October 2005, the British Food Standards Agency issued warnings against “fraudulent” Zamzam water being commercially sold which contained dangerous levels of arsenic (over three times the legal limit recommended by the World Health Organization).
    The Food Standards Agency is advising consumers to be aware of the fraudulent sale of Zam Zam water that may contain high levels of arsenic. This issue was first brought to the Agency’s attention by Muslim leaders.
    Zam Zam water, which is sacred to Muslims, comes from a specific source in Saudi Arabia and cannot legally be exported from the country for commercial sale.
    A brand of Zam Zam formally sampled by the London Borough of Westminster has been found to contain almost three times the permitted level of arsenic, which could contribute to increasing people’s risk of cancer.
    The local authority has taken action to prevent further sale of the product from the outlet.
    In addition they have contacted the importer of the water to ensure that they stop importing the product. No other outlets are known to have stocked this product.
    Other brands of Zam Zam water are thought to be on sale in the UK and could be similarly contaminated.
    As genuine Zam Zam water cannot be legally exported from Saudi Arabia for commercial sale, any product found in the shops would have an uncertain provenance and pose a possible safety risk.[12]
    However, in May 2011, a BBC investigation found that, like the “fraudulent” Zamzam water being sold in 2005, genuine Zamzam water taken from the well also contained arsenic levels three times the legal limit.
    In addition to the dangerous arsenic levels, the holy water contained high levels of nitrate and potentially harmful bacteria.
    [Samples from taps which were linked to the Zam Zam well and bottles on sale in Mecca] showed high levels of nitrate and potentially harmful bacteria, and traces of arsenic at three times the permitted maximum level, just like the illegal water which was purchased in the UK.

  5. jack
    June 7, 2011 at 8:22 pm | #5

    Inilah ciri-ciri orang yang beriman menurut Yesus :

    Markus

    16:18 mereka memegang ular, sekalipun mereka meminum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka, dan mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit dan orang itu akan sembuh.

  6. nest
    June 8, 2011 at 10:44 am | #6

    indahnya, bertetangga yang seperti ini .. semoga .. amiin …

    Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya.” (HR Bukhari).

  7. haidar
    July 4, 2011 at 8:44 am | #7

    Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kau memiliki dua tetangga, kepada tetangga mana aku harus memberikan hadiah?” Beliau menjawab,“Kepada yang paling dekat pintu rumahnya.” (HR. Bukhari)

    Subhanallah…

  1. No trackbacks yet.

KIRIM KOMENTAR

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 235 other followers