Beranda > Uncategorized > Ibrahim Seorang Atheis????

Ibrahim Seorang Atheis????

Menarik ketika membaca sebuah tulisan dari seorang blogger yang menulis bahwa Ibrahim adalah seorang atheis, berikut tulisannya yg berjudul “Ibrahim seorang Atheis”:

Apakah anda mengira Nabi Ibrahim itu seorang yang beriman secara tiba-tiba? Turun ploh dari langit begitu saja, lalu kemudian dia langsung mengakui, menyambah dan taat pada Tuhan? Anda keliru. Ibrahim itu seorang Atheis.

Ada banyak model paham Atheis lho bro, sebagaimana juga banyak aliran dalam Islam. Termasuk juga pada Kristen. Tapi saya tidak hafal. (Karena metode menghafal itu tidak bagus, bisa merusak ingatan. Makin rajin menghafal makin tumpul pemahaman)

Ada Atheisme filosofis. Yaitu tidak meyakini Tuhan berdasarkan proses penalaran atau dengan menggunakan metode filsafat, seperti yang terjadi pada Fuerbach, Nietzsche, Sartre, Betrand Russel dan lain-lain.

Kemudian ada Atheisme Psikologis, yaitu tidak meyakini adanya Tuhan melalui penghayatan ilmu jiwa atau psikologi. Tuhan diyakini hanya semacam proyeksi dari rasa sakit psikologis, sehingga manusia membutuhkan sosok yang adi kodrati sebagai tempat berlindung kegelisahan psikisnya. Persis seorang anak yang merintih meminta perlindungan pada ayahnya. Inilah yang dilakukan Sigmud Freud dan kritiknya pada agama Kristen tentang konsep Tuhan Bapa.

Dan ada Atheisme Naturalistik, yaitu Atheis yang berangkat dari fenomena alam. Berbagai objek dan gejala alam diteliti dan dicermati. Tapi ternyata tidak ditemukan dimensi Ketuhanan pada berbagai gejala alam selain hanya mekanisme hukum alam yang natural. Alami dan sudah berjalan sendirnya. Dan tidak ditemukan suatu “X “yang memicu segala proses terjadinya fenomena alam. Inilah yang terjadi pada para Ilmuwan alam, seperti pada Darwin.

Oya sebelum melangkah, perlu saya tegaskan bahwa penggunaan kata Ibrahim berbeda dengan Nabi Ibrahim. Kata Ibrahim mengacu pada zaman sebelum dia menerima wahyu dari Tuhan. Sedangakan kata Nabi Ibrahim berarti pada pasca Kenabiannya.

Baik, sekarang mari kita cermati beberapa ayat Alquran di bawah ini:

“Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar(hanif), dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS: surat al-An’am, ayat 76-79)

Nah, dari keeempat ayat tersebut, secara simbolis tampak proses perjalanan Ibrahim dalam mencari Tuhan. Dia berangkat dari mencermati gejala alam. Dia mencari satu sosok yang mengatasi keagungan alam atau jagat raya. Pertama dia melihat bintang yang jauh dan berkedip-kedip indah. Sehingga terbetik dalam pikirannya itulah Tuhan. Tapi begitu cahaya bintang itu hilang, dia mulai ragu. Kenapa Tuhan bisa hilang? Sementara objek-objek alam lainnya masih ada. Tidak mungkin. Tuhan tidak mungkin lebih kecil, tidak mungkin Tuhan kalah permanen dan bisa tenggelam diantara objek-objek alam.

Di lain waktu kemudian dia melihat bulan. Indah dan terlihat lebih besar dari bintang. Ibrahim terkesima. Dan keraguannya pada bintang bergeser dan terjawab pada sosok Bulan. “Inilah Tuhan. Jauh lebih besar dari bintang. Maka pantas dia jadi Tuhan.” Tapi bulan pun akhirnya juga tenggelam ke peraduannya. Maka Ibrahim kembali lagi menjadi ragu. Mana mungkin Tuhan tenggelam. Namanya juga Tuhan. Masak kalau sama obek-objek alam lainnya.

Akhirnya Ibrahim melihat Matahari. Lagi-lagi Ibrahim terkesima. Cahayanya lebih terang dan tajam. Menerangi langit dan bumi. “Tidak salah lagi ini pasti Tuhan. Ini yang terbesar dari bintang dan bulan. Lebih perkasa dan berpengaruh kehadirannya. Terbukti dari ukuran, ketajaman dan penyebaran cahayanya.” Tapi giliran matahari tenggelam di ufuk senja, lagi-lagi Ibrahim kecewa. “Tuhan tidak mungkin tenggelam. Ah….”

Nah, apa yang terjadi pada Ibrahim?

Lebih kurang sama dengan apa yang dialami para ilmuwan ketika meneliti gejala alam. Hanya saja Ibrahim tidak menggunakan mikroskop. Tidak menggunakan teropong bintang. Tidak berada dalam labor kimia dan fisika. Tapi hanya dengan menggunakan mata telanjang.

Tapi pada intinya prosesnya sama. Pintu masuk Ibrahim mencari Tuhan melalui fenomena alam. Dan setiap fase itu ditolaknya. Bermula dari yakin pada satu model keyakinan (Bintang) kemudian dia tolak. Dia bunuh keyakinannya pada Bintang. Kemudian bergeser dan berpindah meyakini Bulan. Tapi akhirnya juga dia tolak. Sampai kemudian berakhir pada Matahari. Maka lengkap sudah Ibrahim membunuh tuhan-tuhan palsu disetiap fase keyakinannya.

Ini mengintakan saya pada konsep pembunuhan tuhan-tuhan palsu pada Nietzsche. Mengingatkan saya pada konsep Dekonstruksi Derida. Dimana manusia pada awal pencariannya meruntuhkan segala model keyakinannya. Meruntuhkan konstruk-konstruk pikiran. Dan diujung segala dekonstruksisasi itu adalah nihil. Kosong. Tak ada lagi yang diyakini.

Lebih kurang itulah model Atheisme Naturalistik. Tidak ditemukan Tuhan pada gejala alam. Tidak ditemukan Tuhan dengan metode empirisme, seperti yang sangat kental pada Hume.

Sesaat ketika itu Ibrahim mengalami masa transisi dalam pencariannya.

Fase Atheisme Naturalistiknya.

Tapi Ibrahim tidak berhenti. Dia meloncat secara metafisis dan meyakini pasti ada sesuatu dibalik segala yang ada. Pati ada sesuatu dibalik segala objek-objek alam. Dibalik segala gejala alam. Ibaratnya Ibrahim hijrah dari seorang empirisis menuju seorang spiritualis. Dari metode empiris ke metode spekulasi metafisis.

Ini mengingatkan saya pada Pascal, seorang ilmuwan dan pemikir Prancis Abad-17. Dia menyatakan bahwa ketika pengalaman demi pengalaman macet. Ketika penalaran demi penalaran macet. Ketika pertanyaan-pertanyaan terakhir macet dan terus menerus gagal, maka disaat itulah manusia harus meloncat ke iman. Dan loncatan itu bersifat irrasiaonal (sebagian menyebutnya supra rasional). Dan proses ini tidak lagi dengan mengunakan rasio akal pikiran. Tapi adalah dengan logika hati.

Lebih kurang itulah yang terjadi pada Ibrahim dalam pencariannya akan Tuhan.

Hmm …oke Bung Erianto Anas.

Cuma ada satu pertanyaan buat anda. Kenapa untuk menjelaskan Ibrahim saja anda harus mengutip sekian pengalaman dan pemikiran dari tokoh-tokoh di luar agama Islam?

Ya bagi saya itulah suatu bukti bahwa Roh Tuhan, spirit Universal itu tidak memihak. Tidak peduli siapapun manusianya. Mulai dari Sidarta (Buddha), Musa, Daud, Ibrahim, Yesus, Muhammad, Plato, Augustinus, Pascal, Nietzsche, Erianto Anas dan anda semua, adalah medan penubuhan jejak Tuhan yang tersebar di muka bumi. Sepanjang waktu dan sepanjang masa. Asal semua manusia mau membuka diri pada panggilan Sang Ada. Pada sapaan Tuhan. Melalui jalan apa saja. Dan setiap jalan adalah pintu, tarekat, cara, metode untuk mencari dan mengenal Tuhan. Meminjam istilah Filsafat Perennial, pada hakikatnya pada diri manusia itu sudah inklud semacam chip di hati dan pikirannya. Sebagai radar pemancar sinyal spiritual dari Tuhan. Dan hanya manusia-manusia yang mau membuka dirilah yang akan mendapatkannya.

Itulah sebabnya bagi saya saling cross referensi dari berbagai pengalaman spiritual para Nabi dan pemikir menjadi mungkin. Karena kenyataannya Tuhan tidak menumpuk hidayah dan petunjukNya hanya pada satu zaman, pada suatu masa apalagi hanya pada seorang Ibrahim atau Muhammad saja misalnya. Karena Tuhan itu bukanlah milik satu golongan. Apalagi milik satu orang. Tapi Tuhan adalah milik kita semua. Milik semua manusia.

Nah, lebih kurang begitulah penafsiran saya.

Bagaimana menurut anda?

Berikut tanggapan saya:

Kisah Ibrahim didalam Al-Qur’an pada dasarnya mengajarkan manusia pada pencarian Tuhan secara awam dengan benar. bagaimana cara orang berfikir tentang Tuhan?? tentu saja dari kekaguman manusia akan kekuatan dan keteraturan alam semesta, lalu kemudian dihubungkan dengan hukum sebab akibat dimana suatu yang ada pasti sebab di”ada”kan. Ibrahim mengajarkan bahwa akhir dari segala pencarian tentang siapa pencipta alam semesta ini hanya akan berakhir bahwa memang ada “Sesuatu” yang menciptakan alam semesta ini, “sesuatu” yang tidak diketahui sosoknya, wujudnya, serta kepribadiannya namun diyakini keberadaanNya. “sesuatu” itulah yang dalam agama disebut sebagai Tuhan yaitu sosok pencipta alam semesta ini. semua agama yang ada didunia ini setahu saya mempunyai gambaran yang sama tentang Tuhan, yaitu sosok yang cuma diyakini keberadaanNya namun tidak diketahui bagaimana sosoknya, seperti dalam Hindu, Tuhan dikatakan tidak tergambarkan, tidak berhingga dan tidak terpikirkan, Yesus dalam PB mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang pernah melihat Tuhan, sedangkan dalam Islam diajarkan bahwa Tuhan adalah sosok yang tidak ada satupun didunia ini yang serupa denganNya. lalu kemudian pengertian Tuhan menjadi rancu dengan adanya berhala, yaitu bentuk-bentuk fisik yang disembah yang dianggap sebagai Tuhan.

Entah kenapa Ibrahim bisa dikatakan sebagai seorang Atheis, karena sepanjang pengetahuan saya seorang atheis adalah orang yang tidak mengakui adanya Tuhan sebab Tuhan tidak bisa dibuktikan keberadaanNya. sedangkan Ibrahim sebelum menjadi seorang Nabi adalah orang yang gelisah dengan Tuhan-Tuhan yang disembah oleh kaumnya termasuk oleh bapaknya. manusia sebagai makhluk Tuhan sebenarnya diberi penalaran alamiah tentang Tuhan, nah penalaran alamiah Ibrahim inilah yang gelisah dengan apa yang disembah oleh kaumnya yang tidak sesuai dengan penalarannya. jadi Ibrahim menurut saya bukanlah seorang Atheis, melainkan orang yang belum mendapat petunjuk, nah setelah kegelisahan dan pemikiran Ibrahim sudah pada puncaknya, maka Ibrahim mulai mencari Tuhannya denganan penalarannya.

Ibrahim bukanlah seorang atheis karena Ibrahim membunuh Tuhan-Tuhan palsu atau disebut juga berhala, Ibrahim meluruskan kembali kepada ajaran Tuhan yang benar, itulah kenapa Ibrahim dikatakan sebagai seorang yang hanif/lurus karena Ibrahim meluruskan kembali ajaran Tuhan yang benar secara penalaran alamiah manusia sebagai makhluk Tuhan. jadi kalo mau belajar tentang Tuhan yang benar, belajarlah dengan Ibrahim, berbeda dengan Atheis naturalis seperti yang ada diatas, mereka merasa tidak menemukan dimensi keTuhanan dan justru berusaha membunuh Tuhan yang benar dengan terus berusaha mencari proses terjadinya alam semesta ini. para pemikir-pemikir barat yang ada ditulisan diatas berusaha menjelaskan secara nyata tentang terjadinya alam semesta ini dan menolak adanya “sesuatu” yang tidak bisa dijelaskan secara nyata yang menciptakan alam semesta ini. teori yang paling mutakhir adalah terjadinya alam semesta ini sebab adanya ledakan yang disebut bigbang. maka para atheis untuk sekarang ini menyatakan bahwa bigbanglah yang menyebabkan terjadinya alam semesta ini, namun teori ini bisa dikatakan bukan teori final karena peristiwa sebelum terjadinya bigbang belum bisa dijelaskan, dan kemudian peristiwa yang dibelakangnya lagi, dan dibelakangnya lagi hingga seterusnya. sebenarnya dari sini bisa dibuktikan bahwa Tuhan yang sebenarnya tidak akan pernah bisa dibunuh, karena selama teori yang dibelakang bigbang belum bisa dijelaskan, maka Tuhan menjadi tetap akhir jawabannya dan itu berarti Tuhan tetap ada.

Categories: Uncategorized Tag:
  1. jangkirk
    April 24, 2012 pada 7:20 pm | #1

    TERBELALAK :
    Yah..lagi….!!! kreatip dong kalau bikin komentar.. pasti dech copas dari lapak yang lain…,
    Isa almasih bukan yesus….., yesus bukan isa almasih…..,

    yesus adalah tuhan abal – abal cipaan jangkrik…., jadi siapa saja boleh menyiksanya,
    yesus makin disiksa makin keren…., yang nyiksa akan masuk surga…KONYOL

    SAMPAI KINI TAK ADA YANG DAPAT MEMBUKTIKAN…!

Comment pages
1 2 6196

BOLEH KOMENTAR DENGAN TIDAK MELANGGAR PERATURAN DISKUSI

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 283 pengikut lainnya.