PERBEDAAN INFORMASI AL-QUR’AN DAN ALKITAB TENTANG HAMAN
Persoalan perbedaan tentang terdapatnya seorang tokoh yang bernama Haman antara Al-Qur’an dan alkitab bisa kita temukan dalam ayat-ayat ini :
Al-Qur’an :
Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”. (Al-Qasas: 38)
Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (Ghaafir: 36)
Alkitab :
Ester 3:1 Sesudah peristiwa-peristiwa ini maka Haman bin Hamedata, orang Agag, dikaruniailah kebesaran oleh raja Ahasyweros, dan pangkatnya dinaikkan serta kedudukannya ditetapkan di atas semua pembesar yang ada di hadapan baginda.
Perbedaan yang sangat bertentangan tentang tokoh ini adalah, kalau Al-Qur’an menyatakan Haman merupakan salah seorang pejabat penting di istana Fir’aun, maka Alkitab menyebut tokoh ini merupakan pejabat penting di kerajaan Persia. Perbedaan ini pada mulanya dijadikan ‘bahan ejekan’ oleh pihak Kristen dengan menyatakan Al-Qur’an sudah salah mencatat fakta sejarah karena berbeda dengan alkitab, dengan suatu alasan bahwa alkitab sudah ditulis jauh lebih awal dibandingkan Al-Qur’an, maka yang ditulis belakangan jelas mengandung cacat sejarah dan telah mengalami penyimpangan.
Namun temuan arkeologis ternyata mengungkapkan fakta sebaliknya. Sejarah Mesir kuno merupakan salah satu dari sedikit kisah-kisah jaman dahulu yang berhasil diungkapkan secara lengkap serta detail, dan didukung dengan adanya prasasti-prasasti tertulis. Saat ini kita bisa memperoleh dengan mudah hasil temuan tersebut melalui internet berupa foto-foto tulisan Hieroglyph dan hasil terjemahan yang dibuat oleh para ahli. Pada salah satu prasasti tersebut tercatat dan tertulis nama Haman, sebagai salah satu tokoh penting di Mesir dengan kedudukan berada dibawah Fir’aun. Fakta ini sangat sulit untuk dibantah, sebaliknya sampai saat ini tidak ada sedikitpun temuan sejarah dan arkeologis yang ditemukan tentang keberadaan tokoh ini dalam istana Raja Persia : Ahasyweros (Xerxes). Mensikapi hal ini, pihak Kristen yang biasanya saya temui dalam diskusi lintas agama memiliki kesamaan sikap, yaitu berkelit dengan menyatakan : kemungkinan perbedaan ini menunjukkan adanya 2 tokoh yang berbeda dengan nama yang sama. Tuduhan yang menyatakan Al-Qur’an telah salah mencatat sejarah karena berbeda dengan alkitab mulai menghilang. Dalam hal ini kita sebenarnya tidak punya kepentingan dengan pembuktian keberadaan Haman di Persia melalui fakta arkeologis dan sejarah, itu semata-mata menjadi urusan orang Kristen sendiri. Biarlah mereka yang berkutat dengan kebenaran kitab suci mereka, benar atau salah juga merupakan tanggungan mereka sendiri.
Pembuktikan sejarah dan arkeologis tentang kebenaran pernyataan Al-Qur’an tentang nama Haman yang berada di Mesir bisa anda temukan dalam tulisan disini :
http://id.wikipedia.org/wiki/Haman_%28Al-Qur%27an%29
http://www.islamic-awareness.org/Quran/Contrad/External/haman.html
Berikut ini tulisan dari buku : Sejarah Bangsa Israel, dalam Bibel dan Al-Qur’an, Sebuah Penelitian Islamiv Archaeology. Penulis : Dr. Louay Fatoohi/Prof Shetha Al-Dargazelli
Salah satu perbedaan penting antara penjelasan Al-Qur’an dengan Bibel tentang konflik antara Musa dan Fir’aun adalah disebutkannya dalam Al-Qur’an figur penting di istana Fir’aun, Haman. Tokoh ini membantu Fir’aun dalam pengambilan keputusan melawan misi Musa. Haman disebut enam kali dalam Al-Qur’an. Salah satu ayat menyebutkannya secara sepintas (QS 29:39), bersamaan dengan penyebutan sejumlah individu dan kaum yang dihancurkan Allah, dan menekankan bahwa dia tenggelam bersama Fir’aun. Berikut ini adalah 3 bagian dalam Al-Qur’an yang menunjukkan pentingnya kedudukan figur ini di istana Fir’aun :
[28:2] Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Qur’an) yang nyata (dari Allah). [28:3] Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman. [28:4] Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. [28:5] Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi) [28:6] dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu[28:7] Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. [28:8] Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya dia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.
[40:23] Dan sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, [40:24] kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: “(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta”.[40:25] Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata: “Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersama dengan dia dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka”. Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka).
Bibel tidak mengenal figur berpengaruh semacam itu di istana Fir’aun, baik dengan nama Haman atau lainnya. Terlepas dari Fir’aun sendiri, tidak ada karakter Mesir terkemuka dalam penjelasan Bibel tentang eksodus. Namun, ada seseorang yang penting bernama Haman tertera dalam kitab Ester, yang kisahnya diduga terjadi di Persia berabad-abad setelah eksodus. Dalam kitab Ester, kita membaca bahwa orang-orang Yahudi setelah pengasingan Babilonia berada dibawah kekuasaan Ahasyweros, raja Persia dan Media. Suatu saat, raja mempromosikan seseorang bernama Haman ke jabatan Perdana Menteri. Mordekhai, seorang pejabat istana berkebangsaanYahudi, tanpa alasan yang jelas menolak menunduk di hadapan Perdana Menteri baru. Hal ini membuat Haman marah dan kemudian dia berusaha membalas dendam dengan berencana menghancurkan orang-orang Yahudi di kerajaan Persia. Akan tetapi dengan bantuan Ester, sepupu Mordekhai dan istri Ahasyweros, rencana itu gagal dan Mordekhai bersama saudara-saudara Yahudi-nya menang atas Haman yang akhirnya dihukum mati dengan ditancap pada tiang tinggi. Inilah secara singkat beberapa peristiwa penting dalam kisah Ester.
Sejumlah sarjana barat yang mengikuti pandangan umum bahwa Al-Qur’an adalah versi Bibel yang diedit secara bebas, menyatakan bahwa munculnya Haman dalam kisah Musa dan Fir’aun versi Al-Qur’an diakibatkan oleh pembacaan yang keliru atas Bibel, sehingga Haman ‘dipindahkan’ dari istana raja Persia, Ahasyweros, ke istana Mesir. Salah satu contoh pandangan ini ditemukan dalam ‘The Encyclopedia of Islam’ yang – sembari menuduh Nabi Muhammad SAW menulis Al-Qur’an dengan mengambil bahan-bahan dari Bibel – menyatakan dalam entry ‘Haman’ : nama orang yang dikait-kaitkan Al-Qur’an dengan Fir’aun, disebabkan oleh kerancuan yang masih tak terjelaskan dengan menteri Ahasyweros yang disebutkan kitab Ester dalam Bibel (EI 1971 : hal 110). Ini merupakan pengulangan pernyataan bahwa kisah Al-Qur’an tentang Fir’aun dan Haman adalah modifikasi dari narasi kitab Keluaran yang ‘kekeliruan menempatkan kisah dalam kitab Ester dan kisah menara Babel’. Paling banter ‘The Encyclopedia of Islam’ – nama yang ironis jika kita melihat isinya – ketika mengakui beberapa perbedaan penjelasan Al-Qur’an dari Bibel, berpendapat bahwa, “Dalam beberapa penjelasan Al-Qur’an, dapat dideteksi sejumlah unsur non-Biblikal” (EI 1965 : hal 917).
Pernyataan tersebut, dan pernyataan-pernyataan serupa yang diberikan para orientalis , didasarkan pada misrepresentasi dan kesalah-pahaman; misrepresentasi nilai historis kitab Ester dalam Bibel, dan Bibel secara umum, dan kesalah-pahaman terhadap Al-Qur’an secara umum. Mari kita bahas yang pertama terlebih dahulu. Klaim bahwa penjelasan Al-Qur’an tentang Haman mencerminkan kerancuan dengan kisah Ester dalam Bibel mengisyaratkan anggapan bahwa setiap penyebutan tentang Haman pasti berasal dari narasi Bibel. Asumsi ini sendiri mengimplikasikan entah apakah Haman adalah figur ahistoris yang tidak pernah ada diluar Bibel atau jika dia historis, dia pastilah Perdana Menteri raja Persia, Ahasyweros, sebagaimana digambarkan dalam kitab Ester. Kemungkinan pertama akan dibahas dibawah ketika etimologi Haman dibicarakan. Adapun yang kedua, jelas asumsi ini meniadakan kemungkinan bahwa kesalahan terletak pada informasi Bibel tentang Haman historis, yang merupakan figur berpengaruh dalam istana Fir’aun, seperti yang digambarkan Al-Qur’an. Namun, mengesampingkan kemungkinan ini sama sekali tidak logis karena adanya fakta yang diketahui secara umum, bahwa disamping klaim-klaim historis yang tidak dapat dibuktikan, Bibel penuh dengan data historis yang salah. Salah satu aspek kekacauan sejarah dalam Bibel adalah penempatan karakter dalam periode dan tempat historis yang salah. Misalnya Redford melihat secara kritis bahwa Fir’aun Sabtekha (697-690 SM) muncul dalam daftar bangsa-bangsa (Kejadian 10:7) sebagai suku Nubia (Redford 1992: hal 256). Karena itu, pertanyaannya adalah : apakah ada alasan untuk menyatakan bahwa Haman dalam kitab Ester – bukan Haman dalam Al-Qur’an – adalah kasus lain kekeliruan peletakan karakter dalam Bibel..??
Para peneliti menegaskan bahwa ‘Ahasyweros’ bisa jadi ejaan Ibrani untuk sebuah nama Persia yang diterjemahkan oleh orang-orang Yunani menjadi Xerxes (486-465SM). Akan tetapi, sampai sekarang tidak bisa dilakukan identifikasi historis atas nama Haman atau tokoh-tokoh lain dalam kitab Ester, termasuk Ester sendiri yang menjadi nama kitab tersebut. Kisah dalam kitab Ester juga mengandung informasi yang diketahui salah, seperti pernyataan bahwa Persia terbagi menjadi 127 propinsi atau ‘satrapy’ (kegubernuran), padahal sumber historis lainnya hanya menyebutkan tidak lebih dari 30. Para ahli sepakat bahwa kitab Ester mengandung masalah historis yang masif dan sungguh tidak pantas disebut sebagai sebuah buku historis. Buku tersebut sangat ahistoris sehingga salah satu study mutakhir menyimpulkan bahwa ‘kitab Ester sebaiknya dipandang sebagai novel sejarah masa kerajaan Persia’. Pandangan ini diterima oleh kebanyakan sarjana. Buku ini begitu jauh dari sejarah faktual sehingga study di atas menyatakan bahwa ‘menyesatkan jika kita menerjemahkan Ahasyweros dengan Xerxes’, karena hal ini mengisyaratkan adanya korelasi dengan tokoh yang kita ketahui dari sumber-sumber Yunani. Sebaliknya, tampaknya pengarang meminjam nama Xerxes, tetapi hanya sedikit fakta lain tentang dirinya dalam penyusunan novel ini (Levenson 1997:hal 25).
Oleh karena itu jelaslah bahwa tidak ada bukti apapun yang menunjukkan bahwa penyebutan Haman dalam Al-Qur’an pada suatu periode historis yang berbeda dengan penyebutannya dalam kitab Ester disebabkan oleh kesalahan pembacaan Bibel, sebagaimana diklaim oleh sejumlah orientalis. Klaim inilah – dengan menyatakan bahwa penjelasan kitab Ester adalah ahistoris – yang mestinya ditunding memberikan gambaran sejarah yang membingungkan.
Sekarang, mari kita bahas etimologi kata ‘Haman’. Pernyataan bahwa Haman dalam Al-Qur’an sama dengan Haman dalam Bibel mencerminkan kesalah-pahaman mutlak terhadap etimologi kata ‘Haman’. Nama ini dengan mudah dapat dikaitkan dengan nama dewa Mesir ‘Amun’. Karena itu, nama ini adalah kata Mesir dan bukan Persia seperti yang dinyatakan dalam kitab Ester. Dengan kata lain, Bibel-lah yang salah menempatkan Haman, sebagaimana akan dijelaskan lebih jauh nanti.
Berdasarkan korelasi yang nyata antara ‘Haman’ dengan ‘Amun’, Syed (1984) mengemukakan bahwa Haman dalam Al-Qur’an adalah ‘gelar’ seseorang, bukan nama. Dia berpendapat bahwa seperti halnya Fir’aun yang merupakan gelar dan bukan nama seseorang, demikian pula ‘Haman’. Syed menegaskan bahwa ‘Haman’ adalah gelar ‘pendeta tinggi Amun’. Diantara bukti-bukti dalam makalah Syed kita menemukan sebagai berikut :
“Penyebaran penyembahan terhadap Amen dianggap berhubungan dengan asalnya, yaitu daerah-daerah oase. Tampaknya tidak ada alasan untuk mempertanyakan bahwa penyembahan oase primitif terhadap Ammon atau Hammon adalah asal muasal dewa Amen atau Amun pada bangsa Mesir dan Baal Haman pada bangsa Carthage” (Petre 1924 : hal 21).
Dengan mengutip fakta bahwa para pendeta Mesir sering mempersonifikasikan dewa, Syed menyatakan bahwa :”Amon atau Haman adalah gelar umum bagi para pendeta tinggi ketika mempersonifikasikan dewa Amon”. (Syed 1984 : hal 87). Tentang pengaruh posisi ‘Haman’ atau ‘Pendeta tinggi Amun’ di Mesir, Syed menyatakan berikut :
“Jadi, ‘nabi pertama’atau pendeta tinggi Amun adalah sekaligus ‘Pengawas Agung Pekerjaan’. Dalam kapasitas ini, dia diharapkan mengawasi pekerjaan bangunan luas terkait dengan kuil, dan memberikan kemegahan dalam altarnya. Sebagai ‘Panglima Tentara Dewa’ dia mengepalai kekuatan militer kuil, seperti Uskup besar pada abad pertengahan. Sebagai ‘Pengurus Perbendaharaan Negara’, dia harus mengontrol administrasi keuangan yang sama sekali tidak mudah. Otoritasnya juga tidak hanya mencakup kuil Amon dan para pendetanya. Dia juga adalah ‘Pemuka Nabi-nabi Dewa Thebes’ dan ‘Pemuka nabi-nabi segala dewa di selatan maupun utara’. Artinya, semua pendeta di negeri ini berada di bawah otoritasnya dan dialah otoritas spiritual tertinggi kerajaan”. (Steindorff 1905 : hal 96-97).
Identifikasi Syed tentang Haman sebagai ‘pendeta tertinggi Amun’ bisa jadi benar. Meskipun dewa Re dan Ptah juga dipuja selama pemerintahan Ramses II, Amun-lah yang memiliki supremasi atas dewa-dewa lain. Karena itu, keunggulan Amun juga memberi pendeta tertinggi Amun posisi penting di Mesir. Ayat Al-Qur’an yang disebutkan diatas menggambarkan Haman sebagai seseorang yang memiliki otoritas sangat tinggi di istana Fir’aun. Penjelasan Al-Qur’an tentang konfrontasi antara Musa dengan Fir’aun tidak menyebutkan nama pembantu Fir’aun selain Haman. Lalu, seberapa jauh pernyataan ini sejalan dengan apa yang kita ketahui tentang hierarki kekuasaan di Mesir Kuno..??
Menurut Kitchen, jabatan yang dekat dengan Fir’aun adalah para gubernur selatan dan utara, biasanya Thebes dan Memfis. Kitchen menunjukkan bahwa posisi pendeta tinggi suatu dewa tidak disandang seseorang yang menjadi pendeta melalui pendidikan, tetapi sering kali diberikan kepada seorang guberur atau orang terhormat lainnya saat dia purna tugas sebagai penghormatan atasnya, meskipun kadang-kadang tugas itu diemban seorang pangeran (Kitchen 1982 : hal 158). Jika pandangan ini diterapkan pada tahun-tahun terakhir kekuasaan Ramses II, maka pendeta tinggi setiap dewa, termasuk Amun, tidaklah harus figur yang sangat berpengaruh di bawah Fir’aun, meskipun tetap memiliki kekuasaan besar. Peran yang dimainkan Haman dalam upaya Fir’aun menghambat misi Musa, seperti digambarkan dalam Al-Qur’an, menunjukkan bahwa Haman memiliki otoritas tinggi, tetapi tidak niscaya menggambarkannya sebagai seorang berkedudukan paling tinggi di istana Fir’aun. Dan mungkin sangat menonjol dalam peristiwa-peristiwa itu karena sifat peristiwa-peristiwa itu, yaitu suatu konfrontasi keagamaan. Sebagai pendeta tinggi dari dewa utama kerajaan, pendeta tinggi Amun haruslah diajak bermusyawarah tentang ancaman yang ditimbulkan agama baru ini. Nasihatnya jauh lebih penting ketimbang nasehat pejabat lain di istana Fir’aun, termasuk gubernur selatan dan utara. Sebagai fakta pendukung, harus ditegaskan bahwa misi Musa tidak menimbulkan ancaman militer langsung terhadap Fir’aun, tetapi terutama berupa ancaman keagamaan. Memang Fir’aun tidak membiarkan Bani Israel pergi ke Kanaan karena khawatir mereka akan menggabungkan kekuatan dengan orang-orag Semit yang ambisius dan kembali ke Mesir untuk kembali merebut dengan kekuatan militer Pi-Raamses, ibu kota kuno orang-orang Hyksos. Bahaya ini dengan mudah dapat dicegah dengan menghalangi Bani Israel meninggalkan Mesir, seperti yang dilakukan Ramses II. Akan tetapi, disisi lain, semakin lama Musa tinggal di Mesir – dan dia tidak akan meninggalkan Mesir tanpa kaumnya – semakin besar bahaya yang ditimbulkannya terhadap agama Mesir. Jadi, masalah langsung yang dihadapi Fir’aun adalah ancaman keagamaan dari Musa, sehingga sosok Haman sangat dibutuhkan sebagai penasehat utama Fir’aun.
Faktor penting yang menyebabkan Fir’aun dan anggota istananya menganggap misi Musa sebagai suatu ancaman serius terhadap agama mereka adalah waktu kemunculannya, yaitu hanya 120 – 130 tahun setelah penindasan dan penyembahan dewa Amun itu oleh Amenhotep IV (1350-1334 SM). Fir’aun yang mengubah namanya menjadi Akhenaten (hamba Aten) ini melarang penyembahan terhadap Amun dan menutup kuilnya, menggantikannya dengan bulatan matahari, lambang Aten. Fir’aun yang radikal ini bahkan berpindah ke ibu kota baru yang disebut Akhetaten dan , tidak seperti kota-kota kuno lainnya, tidak didedikasikan kepada dewa terdahulu manapun. Sebenarnya, Seti I dan putranya Ramses II, yang memulihkan Amun sebagai dewa kerajaan. Misi Musa tentulah membangkitkan kembali semua memori itu dan memaksa Fir’aun meminta nasehat dari pendeta tinggi Amun.
[40:26] Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”.
[20:63] Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama.
Identifikasi Syed tentang Haman sebagai pendeta tertinggi Amun sejalan dengan penjelasan Al-Qur’an dan pada saat yang sama tidak bertentangan dengan pengetahuan mutakhir tentang Mesir masa Ramses II. Namun, identifikasi secara umum ini baru dapat dipastikan setelah orang yang disebut Al-Qur’an dengan Haman itu teridentifikasi secara tegas.
Pada QS 28:2-8 seperti yang dikutip diatas harus dicatat bahwa ayat-ayat tersebut tidak menunjukkan dengan pasti bahwa Haman yang menasehati Fir’aun dalam konfrontasinya dengan Musa, telah hadir pada saat kelahiran Musa. Dua penyebutan Haman dalam QS 28:6-8 merujuk kepada peristiwa diseputar pengutusan Musa. Ini didukung oleh pengamatan bahwa penyebutan Haman setelah Fir’aun dalam kedua kasus tersebut berkaitan dengan penyebutan ‘tentara mereka’. Jelasnya, tentara yang disebutkan ini adalah yang tengelam dilaut dan tidak mungkin tentara Fir’aun saat kelahiran Musa. Konflik terakhir antara Musa dan Fir’aun beserta tentaranya, seperti telah kita lihat, setidak-tidaknya berlangsung empat dekade setelah kelahiran Musa. Waktu itu, kebanyakan tentara Fir’aun pada masa kelahiran Musa telah mati dan tidak lagi mengabdi. Dalam ayat-ayat tersebut, Allah menyebut peristiwa dilaut itu setelah pembunuhan anak-anak Israel untuk menekankan bahwa pembunuhan tersebut tidak menghalangi-Nya membalas Fir’aun dan Haman beserta tentara mereka pada waktu terkemudian melalui tangan orang yang ingin dibunuh Fir’aun ketika masih bayi. Jadi QS 28 : 6-8 berbicara tentang Haman selama pemukiman kedua Musa di Mesir. Pengamatan ini penting jika kita perupaya menentukan identitas Haman yang turut serta dalam upaya Fir’aun melawan Musa, karena hal ini mengisyaratkan bahwa Haman menduduki posisi ini setidak-tidaknya sejak Musa kembali ke Mesir hingga eksodus, suatu periode sepanjang beberapa tahun, namun tidak ada bukti bahwa dia menduduki posisi itu sejak masa kelahiran Musa.
Namun kesimpulan ini mungkin memunculkan pertanyaan berikut : Jika Haman dan tentaranya – meskipun disebutkan dalam ayat-ayat yang terdapat di tengah-tengah ayat-ayat tentang kelahiran Musa – adalah orang-orang masa terkemudian, mengapa Fir’aun tidak bisa dianggap juga termasuk generasi terkemudian..??. Dengan kata lain, mengapa kita tidak berasumsi bahwa Fir’aun masa eksodus berbeda dengan Fir’aun yang berkuasa pada masa kelahiran Musa..?. Jawaban terhadap pertanyaan ini sebenarnya sangat mudah : Al-Qur’an telah menyatakan secara eksplisit dalam QS 28 :4 bahwa Fir’aun yang disebutkan pada ayat 6 dan 8 adalah Fir’aun yang sama yang membunuh bayi-bayi lelaki Israel.
Dua penyebutan tentang Haman dalam Al-Qur’an terdapat dalam ayat-ayat berikut :
[28:38] Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.
[40:36] Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, [40:37] (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta”. Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian..
Ayat-ayat tersebut mengungkapkan sejumlah fakta penting. Pertama, ada penyebutan eksplisit tentang penggunaan tanah liat yang dibakar sebagai bahan bangunan. Hal ini dibuktikan oleh literatur Mesir kuno. Kedua, fakta bahwa menara tersebut dibangun dari tanah liat menunjukkan bahwa bangunan ini tidak dimaksudkan sebagai kuil, karena kuil biasanya dibangun dari batu. Ketiga, ayat-ayat tersebut menggambarkan Haman sebagai seseorang yang bertugas menjalankan proyek bangunan. Jika tidak, Fir’aun akan memerintahkan pembuatan bangunan itu kepada orang lain. Keempat, perintah pembangunan oleh Fir’aun merupakan reaksi yang sangat sesuai dari seorang Fir’aun yang obsesinya terhadap bangunan melebihi Fir’aun lainnya. Kelima, gagasan Fir’aun bahwa dirinya bisa membuktikan kebenaran klaim Musa tentang Allah dengan naik ke langit melalui sebuah menara sejalan dengan konsep Mesir tentang ‘tangga menjulang ke langit yang semula merupakan unsur agama matahari’, seperti ditegaskan oleh Breasted (1912 : hal 153) dan dikutip oleh Syed (1984). Syed juga mengutip penegasan Petrie terhadap ‘menyebar-luasnya gagasan keagamaan tentang keinginan manusia naik menuju dewa di langit (Petrie 1924 : 84).
Pembahasan dalam bagian ini telah menunjukkan bahwa, berlawanan dengan klaim sejumlah sarjana Bibel dan orientalis, Haman yang disebut dalam kisah Al-Qur’an tentang konfrontasi Musa dan Fir’aun tidaklah sama dengan Haman yang disebutkan dalam cerita Ester. Bagian ini juga telah menunjukkan bahwa informasi yang terkait dengan penyebutan Haman dalam Al-Qur’an sangat sesuai dengan praktek dan konsep yang ada di Mesir pada masa Fir’aun secara umum dan masa Ramses II secara khusus. Akan tetapi, historisitas Haman yang disebut dalam Al-Qur’an dan fakta bahwa dia adalah figur yang sangat berpengaruh yang berperan penting dalam perseteruan Fir’aun dengan Musa memunculkan pertanyaan tak terelakkan tentang ketiadaan penyebutan figur ini dalam kitab Keluaran. Namun, fakta bahwa ada seorang Haman ahistoris dalam kitab Ester memberikan jawaban terhadap pertanyaan ini. Awalnya, kisah eksodus dalam Taurat pasti menyebut Haman sebagai pembantu Fir’aun yang menentang Musa, persis seperti yang digambarkan dalam Al-Qur’an. Akan tetapi para pengarang Perjanjian Lama salah menempatkan Haman – yang nama atau gelarnya diambil dari dewa Mesir, Amun – dalam konteks ahistoris yang sangat berbeda. Fakta bahwa Haman jelas-jelas adalah nama Mesir bukanlah sekedar indikasi kebingungan para penyusun Bibel. Namun ada fakta lain, yaitu bahwa Haman ahistoris dalam kisah Ester digambarkan sebagai perdana menteri, yakni figur kedua di Persia setelah raja, persis seperti peran Haman historis dalam konfrontasi Ramses II dengan Musa. Disamping itu persekongkolan Haman ahistoris Persia untuk menghabisi orang-orang Yahudi di kerajaan Persia sebagai balasan terhadap penolakan Mordekhai untuk menghormati – sebuah reaksi yang tidak dijelaskan Bibel – tampaknya merupakan perubahan dari versi asli yang menyatakan bahwa Haman turut campur dengan menyarankan dan melaksanakan pembantaian kedua atas bayi-bayi lelaki Israel yang baru lahir untuk menakut-nakuti Bani Israel dan mencegah mereka mengikuti Musa.
@Sahabatku Yoga
Menurut anda kalau ayat ini gimana……………?
(Kidung Agung 7:1-13)
Betapa indah langkah-langkahmu dengan sandal-sandal itu, puteri yang berwatak luhur! Lengkung pinggangmu bagaikan perhiasan, karya tangan seniman.
Pusarmu seperti cawan yang bulat, yang tak kekurangan anggur campur. Perutmu[ timbunan gandum, berpagar bunga-bunga bakung.
Seperti dua anak rusa buah dadamu, seperti anak kembar kijang.
Lehermu bagaikan menara gading, matamu bagaikan telaga di Hesybon, dekat pintu gerbang Batrabim; hidungmu seperti menara di gunung Libanon, yang menghadap ke kota Damsyik.
Kepalamu seperti bukit Karmel, rambut kepalamu merah lembayung; seorang raja tertawan dalam kepang-kepangnya.
Betapa cantik, betapa jelita engkau, hai tercinta di antara segala yang disenangi.
Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya.
Kataku: “Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel.
Kata-katamu manis bagaikan anggur!” Ya, anggur itu mengalir kepada kekasihku dengan tak putus-putusnya, melimpah ke bibir orang-orang yang sedang tidur!
Kepunyaan kekasihku aku, kepadaku gairahnya tertuju.
Mari, kekasihku, kita pergi ke padang, bermalam di antara bunga-bunga pacar!
Mari, kita pergi pagi-pagi ke kebun anggur dan melihat apakah pohon anggur sudah berkuncup, apakah sudah mekar bunganya, apakah pohon-pohon delima sudah berbunga! Di sanalah aku akan memberikan cintaku kepadamu!
Semerbak bau buah dudaim; dekat pintu kita ada pelbagai buah-buah yang lezat, yang telah lama dan yang baru saja dipetik. Itu telah kusimpan bagimu, kekasihku!
(Firman Tuhan atau rangsangan sex?)
Ah, itu ayat2 bibel rupanya…. Sesaat tadi kukira aku tersesat ke situs2 cerita porno
kalo posting ayat bible disini jangan yang tentang begituan, orang2x kesini kan pada cari ilmu, bukan cari bokep(kalo gitu ayat ini pantesnya di taruh di situs bokep dong??)
Buat yg rindu akan buku stensilan porno karya Eny Arrow yg terkenal di era 80-an, sekarang masih tetap bisa menikmatinya, karena ada dalam Bible.
DI JAMIN BEBAS RAZIA …..
hampa….
alur ceritanya bagus tidak???? Tujuan ceritanya bagus tidak??? sipenulis jelas tidak????
kalau pikiran mu seks anda akan memikirkan seks…tapi jika anda dapat mengerti maksna tulisan tersebut…anda akan tahu bahwa itu tulisan Salomo yang begitu ber mutu.
tetapi saya tidak dapat berharaf banyak pada anda…karena inti pesan kidung itu tidak dapat menembus roh mu..!
Yogi : sekarang saya tanya inti pesan kidung itu apa?
coba monggo jelaskan
sungguh memang Allah telah menutup mata hatimu, jadi tetep aja kafir
@Yogi
kalau pikiran mu seks anda akan memikirkan seks…tapi jika anda dapat mengerti maksna tulisan tersebut…anda akan tahu bahwa itu tulisan Salomo yang begitu ber mutu.
tetapi saya tidak dapat berharaf banyak pada anda…karena inti pesan kidung itu tidak dapat menembus roh mu..
—————————————————————————–
Sekarang coba pikiranmu yang bersih dari segala hal yang berbau seks mengartikan makna dan tujuan penulisan ayat2 cabul tersebut.
Repost
Pertanyaan buat netter2 kristen yang sering koar-koar dan meng-klaim sendiri bahwa Alquran itu men-jiplak Bibel :
Jika Alquran itu menjiplak bibel,mengapa Alquran tidak menjiplak juga informasi yang salah mengenai kisah haman dan firaun yang tertulis di dalam bibel ?
Monggo dijawab !!!!!
Jangan teler !!!!
Sungguh2 sebuah puisi yg sangat memukau, menggambarkan betapa indahnya cinta kasih sepasang kekasih yg sedang dimabuk asmara. Juga melambangkan hubunga cinta kasih Tuhan dengan manusia yang bergaul karib denganNya. Sangatlah bodoh yg menganggap itu sesuatu yg vulgar.
sepi…
dombanya pada kabur
Betapa indah langkah-langkahmu dengan sandal-sandal itu, puteri yang berwatak luhur! Lengkung pinggangmu bagaikan perhiasan, karya tangan seniman.
Pusarmu seperti cawan yang bulat, yang tak kekurangan anggur campur. Perutmu[ timbunan gandum, berpagar bunga-bunga bakung.
Seperti dua anak rusa buah dadamu, seperti anak kembar kijang.
Lehermu bagaikan menara gading, matamu bagaikan telaga di Hesybon, dekat pintu gerbang Batrabim; hidungmu seperti menara di gunung Libanon, yang menghadap ke kota Damsyik.
Kepalamu seperti bukit Karmel, rambut kepalamu merah lembayung; seorang raja tertawan dalam kepang-kepangnya.
Betapa cantik, betapa jelita engkau, hai tercinta di antara segala yang disenangi.
Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya.
bayangkan kalo anda meng-gombal seorang cewek dengan kalimat diatas, siap2x aja bakal di lemparin sepatu
tuh kan keliatan bgt kalo bible itu ngawur. . . .
mereka bilang alquran mencontek dari bible, tapi buktinya informasi di alquran lebih valid dari pada bible. .
kalo nalarnya jalan mesti sadar ada bnyak kecacatan dalam bible. .
btw knp ya kalo thread tentang iptek dan sejarah yang sesuai dgn isi alquran kebanyakan sepi dari komentar “para penduduk bumi ceper”?
maklumlah buku suci mereka ternyata berisi kebohongan belaka…
sadarlah kalau pesan terakhir Nabi Isa as. itu kalian di haruskan mengikuti jalan Rasululloh sebagai penerusnya… apa kalian mesti membuktikannya menunggu hari Kiamat Besar… Monggo pak pendeta kalau memang mau menunggu… tapi kalau ingin cepat silahkan wahai Bani Israel dan Yahudi kami siap di bantai seluruhnya dan pantang menjual Aqidah kami demi harta dunia…!
Pada saat kiamat Besar nanti umat Muhammad Rosulullah sudah di wafatkan oleh Allah Swt, yang tinggal hanya para durjana, kafirun, penyembah berhala, dan orang yg mengahalalkan yg haram dan mengharamkan yang halal
Pada saat kiamat Besar nanti umat Muhammad Rosulullah sudah di wafatkan oleh Allah Swt, yang tinggal hanya para durjana, kafirun, penyembah berhala, dan orang yg mengahalalkan yg haram dan mengharamkan yang halal.
_________________
si mamad sudah wafat lalu yang tinggal si hampa..apakah anda termasuk dari apa yang menjadi ungkapan anda?????
saya salut pada ke-nekad-an anda yogi,saya tanya A,kamu jawab B…
kok yang beginian terus sih kristen yang nyungsep di bog ini…
pertanyaanmu tidak mutu maka tidak perlu di jawab….hehehehe
Bandingkan dengan jujur kebenaran isi Al Quran mengenai Ilmu Pengetahuan, Sejarah Masa Lampau, dengan isi Injil. Injil sekarang telah disesatkan, sesuai selera editor nya yang banyak alfa. Sehingga diturunkalah Al Quran untuk meluruskannya. Coba buka hati untuk kebenaran ……… Jika pun tetap menolak ALLAh SWT tidak pernah merugi. Kaum muslim tidak merugi. Bagiku agamaku bagimu agamamu. Hatur Nuhun
ooo…saya yakin anda tidak memahami alquramu, sebab tidak berani alquranmu untuk dikritik.
kirain propesor yang terlalu cerdas untuk tidak membahas alkitabnyeh
@Sahabatku Yogi
si mamad sudah wafat lalu yang tinggal si hampa..apakah anda termasuk dari apa yang menjadi ungkapan anda?????
================
Saya bukan kafirun bung….. InsyaAllah saya bagian dari umatnya nabi Muhammad, bagaimana dengan anda….?
bagiku muhammad dan anda kroni-kronimu adalah kafirun!
Kāfir (bahasa Arab: كافر kāfir; plural كفّار kuffār) secara harfiah berarti orang yang menyembunyikan atau mengingkari kebenaran. Dalam terminologi kultural kata ini digunakan dalam agama Islam untuk merujuk kepada orang-orang yang mengingkari nikmat Allah (sebagai lawan dari kata syakir, yang berarti orang yang bersyukur).
http://id.wikipedia.org/wiki/Kafir
itu lho prop, yang kapher itu propesor. cari istilah yang lain dunk ah
termasuk orang yang menyelewengkan kebenaran….dan ngaku-ngaku sebagai nabi erakhirkan…..?
tidak dibaca tho??
muangkanyah kalau mau mencomot istilah itu jangan asal comot
@Yogi
Lha kayak gini tipikal Krestener.
Bodoh luar biasa tapi ngerasa diri luar biasa pinter.
haha yog2 ,kamu tuh g beda ya ama nasrani2 yg lain.Sukanya muter2 dan ngalihin pembahasan klo udh kalah.Malah,terakhir aq buka blognya murtadin,eh,forum debatnya udh ditutup.Apaan tuh? pengecut!!!
Paulus lah yg bkn kebohongan yog:
1.Dia tuh anti taurat,mana bs disamain ma rasulullah yg al amin(bs dipercaya???
2.paulus nuls klo sunat tuh g penting
3.paulus g ngelarang makan babi
4.kalian g menghadap qiblat wkt ibadat,padahal menghadap qiblat itu ajaran para nabi.Muslim dan yahudi menghadap qiblat lho.Koq nasrani enggak ya????? Malahan kalian mitnah kami menyembah ka’bah??????
ngeles yahh…typical kristen bgt…
klo ga’ ngeles , jujur , dan mengakui ke bodohan , bukan ‘Kristen’ namanya …
Kan dah jelas syarat tuk jadi Kresten:
1. Jago ngeles
2. Jago ber-analogi muter-muter
3. Otak harus dibuang ke jamban, biar nggak bisa pake logika, biar bisa ngeliat kalo doktrin Kresten tu luar biasa “normal”.
tumben nih, yogi lama nggak nongol…..
si Yogi bukan mau ngeles prennnn……
tapi…. lagi bingung gimana ngejawab ama orang berotak dan berotot keledai.
Kalian semua tak pernah bisa membuktikan bahwa di Quran……Mohammad lebih mulia dibanding Isa Almasih!!!
Pasti lu ngeles melulu…!!!!
maaf ya jeng, nabi itu bukan kontes cari idola
Nabilu simamad kan Idolalu….? Kok idola gaka ada apa2nya… ngeles lagi…i!!! KUMPULIN TUH USTAD SAMPAI KE ARAB SONOH….!!! NGELES….Lagi…ngeles lagi!!!
NIH LIHAT….. Kemuliaan ISA Almasih di QURAN
Lahir dari perawan (Sura 19:16-34; 3:47). Mohamad lahir….?
Diberi gelar “Kalimat Allah” (Sura 3:35, 39; 4:171)….Mohamad……?
Merupakan “Tiupan Roh dari Allah” (Sura 4:171; 19:17)….Mohamad….?
Diberi gelar Yang Mulia, Yang Lama dinubuatkan yaitu “Al-Masih” (Sura 4:17)……MOhammad….?
Disebut “seorang anak laki-laki yang suci” (Sura 19:19) dan dengan demikian tak perlu minta pengampunan. Mohammad….suci……???
Bergantian dengan Allah jadi Pengawas orang (Sura 5:117)….Mohammad….?
Dijadikan oleh Allah “suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami“ (Sura 19:21). Mohammad ….?
Sekarang ini berada di surga (Sura 3:55)….Mohammad…DINERAKA!!!
Akan kembali dari surga sebagai hakim pada Hari Kiamat (Sura 43:69).
MOhammad …akan diadili!!!
Pengikutnya diberikan kedudukan istimewa di atas orang kafir sampai hari kiamat (Sura 3:55).
Pengikut Mohammad….???? Amrozi…Baassir….Imam samodera…Pelaku bom bunuh diri….????
DIMANA LEBIH MULIANYA SI MAMAD…DIBANDING ISA ALMASIH….!!!????
jangkrik
Lurusin dulu pemahamanmu tentang nabi Isa As…
Samakah…. Nabi Isa As dalam Alquran dengan Nabi Isa dalam bible….?
Jelas beda kemana- mana bro,,,,!!!
Kalau kamu menganggap mereka itu sama… berarti kaupun mengakui bahwa nabi Isa As hanya seorang nabi dan rosul bukan tuhan
Belajar dulu bro… biar tambah pinter agar debat ini jadi menarik.. okey
percuma lu ngeles kesitu…. ( Kalah debat biasanya larinya seperti itu) buktikan nabi isa bukan Yesus…!
@Jang kirik
Isa bin Maryam Bukan Tuhan, Tapi Seorang Manusia dan Utusan Allah
Kita bersaksi bahwa Nabi Isa adalah hamba Allah dan rasul (utusan) Nya, kalimatnya yang ia sampaikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya. Penciptaannya di sisi Allah seperti penciptaan Adam, Allah menciptakannya dari tanah lalu berfirman kepadanya “Jadi” maka jadilah ia.
Bahwasanya Isa seperti para nabi lainnya, memberikan kabar gembira akan kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan mewajibkan umatnya untuk mengikutinya jika mendapati zaman diutusnya Nabi Muhammad.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu)! (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (QS. Al-Nisa’: 171)
Allah menguatkan kembali bahwa Isa ‘alaihis salam adalah seorang manusia dan seorang rasul. Allah Ta’ala berfirman,
مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآَيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
“Al Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).” (QS. Al-Maidah: 175)
Allah membantah syubhat orang-orang yang terlalu mengkultuskannya dalam firman-Nya,
إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آَدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (QS. Ai Imran: 59)
Apabila Isa hanya dilahirkan tanpa perantara seorang ayah, maka Adam telah diciptakan tanpa melalui seorang ayah dan ibu. Tak ada dalil yang menunjukkan bahwa keduanya bukan manusia. Dan Allah Mahakuasa untuk melakukan segala sesuatu.
Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan bahwa Isa ‘alaihis salam telah memberikan kabar gembira kepada umatnya akan datangnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ
“Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”.” (QS. Al-Shaff: 6)
Allah mengabarkan bahwa nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sudah termaktub dalam Taurat dan Injil. Dan masing-masing dari keduanya telah mengabarkan berita gembira ini. Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ
“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (QS. Al-A’raf: 157)
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, bahwa ayat ini yang terdapat dalam Al-Qur’an,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
“Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” Allah berfirman dalam Taurat: “Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan serta pelindung bagi kaum ‘ummi. Engkau adalah hamba dan utusan-Ku. Aku menamakanmu dengan al-Mutawakkil, tidak bersifat keras lagi kasar, dan tidak pula berteriak-teriak di pasar. Tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi ia memaafkannya dan berlapang dada. Allah tidak akan mewafatkannya sehingga ia meluruskan agama yang telah diselewengkan sehingga mereka mengatakan Laa Ilaaha Illallaah (Tiada tuhan yang hak kecuali Allah). Maka (dengannya) Allah akan membuka mata yang buta, telinga yang tuli, dan hati yang lalai.”
Bahkan berita gembira kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah disampaikan seluruh nabi dan rasul. Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali Dia mengambil janji darinya, jika Muhammad diutus dan nabi tersebut masih hidup, ia harus mengikutinya. Allah juga mengintruksikan mereka agar mengambil janji dari umatnya, jika Muhammad telah diutus dan mereka masih hidup agar ia diikuti dan ditolong. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آَتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”.” (QS. Ali Imran: 81)
Kemudian Allah menerangkan bahwa membenarkan semua itu menjadi jalan ke surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mengatakan, ‘Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang hak kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, bahwa Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba wanita-Nya, (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya, bahwasanya jannah (surga) adalah hak dan neraka juga hak (benar adanya),’ pasti Allah akan memasukkannya ke dalam surga seberapapun amalnya.” (HR. Muslim)
@jang kirik
Mengimani Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat adalah doktrin yang keliru menurut ayat Bibel sendiri.
Kitab Yesaya menegaskan, sepanjang masa Tuhan dan Juruselamat itu hanyalah Allah, tidak ada yang lain: “Demikianlah firman Tuhan… Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah Tuhan dan tidak ada juru selamat selain daripada-Ku” (Kitab Nabi Yesaya 43:10-11).
Quote