1. SYAIKH MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL ALBANI Soal: Anda telah menyebutkan pada majlis yang lalu bahwa Anda tidak membolehkan aksi bom bunuhdiri… Aksi itu tidak Anda bolehkan, maka tolong jelaskan kepada kami dengan luas. Semoga Allah memberkahi Anda.
Jawab: Saya, menurut saya, berkaitan dengan aksi bom bunuh diri, saya telah berbicara lebih dari sekali dengan sedikit rinci. Akan tetapi yang jadi masalah, itu tidak dalam satu majlis, tapi dalam beberapa majlis yang berbeda. Kadang kami ringkas, kadang kami rinci.
Adalah suatu yang telah diketahui dikalangan Ulama semua -tanpa ada perselisihan antara mereka¬ bahwa tidak boleh bagi seorang muslim untuk melakukan bunuh diri dengan makna: Ingin lepas dari tekanan penguasa kejam, dari sebuah penyakit yang dia derita hingga penyakitnya menjadi penyakit menahun dan yang sejenisnya, maka bunuh diri untuk melepaskan diri dari hal seperti ini, tanpa diragukan, adalah haram.
Dalam hal ini ada beberapa hadits yang shohih dalam riwayat Bukhari (1299dan 5442) dan Muslim (109 dan juga Turmudzi 2044); “Siapa yang membunuh dirinya dengan racun, atau dengan besi atau yang sejenisnya, maka dia akan terus diazab dengan cara itu di hari kiamat…”
Hingga sebagian Ulama ada yang memahami bahwa siapa yang membunuh dirinya berarti dia mati sebagai seorang kafir. Karena tidaklah dia melakukan itu melainkan karena marah kepada Al¬lah dengan menimpakan musibah kepadanya. Dan dia tidak sabar menerimanya. Seorang Muslim – tanpa ragu lagi- tidak akan berfikir untuk bunuh diri apalagi sampai melaksanakan rencana untuk bunuh diri.
Disini ada contoh dari tema yang lalu bahwa ilmu wajib beriringan dengan amal. Jika ilmunya tidak benar, maka amalnya juga tidak benar.
Ketika seorang muslim berilmu dan dididik menurut Al Qur’an dan Sunnah akan beda hasilnya dalam menghadapi kehidupan dunia. Dan juga akan berbeda aktivitasnya dengan yang lain yang mereka -saya tidak katakan bahwa yang lain tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya, tidak- beriman kepada
Allah dan rasul-Nya. Akan tetapi mereka tidak tahu apa yang Allah firmankan dan rasul-Nya sabdakan. Diantara apa yang beliau sabdakan:
“Sangat mengagumkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik. Dan itu tidak terjadi kecuali pada seorang mukmin. Jika dia tertimpa kebahagiaan, dia memuji dan bersyukur kepada Allah. Maka itu baik baginya. Bila dia tertimpa musibah, dia bersabar. Maka itu baik baginya. Dan itu tidak terjadi kecuali pada seorang mukmin. “(HR Muslim 2999)
Maka siapa yang tertimpa penyakit yang menahun dan siapa yang tertimpa kemiskinan yang sangat, maka dia seorang mukmin yang tidak ada beda padanya jika dia sehat dari sisi “bangunan”nya. Jika dia kaya harta atau miskin, juga tidak beda baginya. Dia dapat pahala. Jika dia dapat nikmat, dia bersyukur kepada Allah. Maka dia diberi pahala. Dan bila dia mendapat musibah, dia bersabar. Maka itu baik baginya.
Maka siapa yang bunuh diri, menurut seringnya, tidak beriman.
Read more…
Komentar Terakhir